Catatan Harian Sakura

Karena dengan menulis, segala bentuk kebaikan tidak akan berhenti di depan matamu
Follow Me
#30daysramadhanwriting

Pulang adalah satu-satunya cara menuntaskan rindu. 
Semoga tahun ini saya bisa menuntaskan setumpuk rindu. Maka, ini adalah kepulangan ketujuh selama saya menjadi anak rantau. Sudah 5 tahun menetap di pulau industri ini (Batam), dan sudah 2 tahun tidak menginjakkan kaki di rumah dan menatap dinding kayu yang masih kokoh melindungi kenangan.
 

Moment mendekati lebaran adalah hal yang paling saya nantikan, sekaligus menyedihkan. Kenapa? Pertanyaan ini "Kapan pulang?" lebih horor dibanding "Kapan nikah?" 😂 dan saya selalu labil menjawabnya. "Belum tahu, Kalau dapat libur pulang, kalau gak yah lebaran di rumah sakit lagi, takbiran dengan keluarga pasien." 

Sedih gak sih? Iya sedih banget. Tahun 2016 adalah tahun yang paling berkesan bagi saya. Bahwa bukan kesia-siaan saya berada di sini (yang sedang menjalani masa koas di rumah sakit). Saya berharap dengan menjalani tugas sebagai koas-merawat pasien, semoga Allah menjaga keluarga saya dimanapun berada. Dengan sepasang mata yang terus berkaca-kaca menyaksikan pasien satu persatu pulang bertemu dengan keluarga, namun di ruangan lain ada yang sedang menempuh jalan "pulang"sesungguhnya. Tidak ada yang tahu, kapan giliran kita menempuh jalan ini. Tentu, kita butuh perbekalan untuk perjalanan "pulang" 

 ------
Yang paling dirindukan seorang perantau bukanlah kepulangan, tapi pertemuan. Semoga para pejuang rantau tahun ini bisa pulang ke rumah, bertemu dengan orangtua dan keluarga.
Rindu itu candu, cawannya adalah pulang, dan penawarnya adalah temu.

Batam, 27 Mei 2017. 

#Ramadhan1

Kali ini berbeda.... 

Hujan turun sangat deras
dan aku menikmatinya
biarlah hujan berlama-lama
aku ingin mendengar nyanyiannya

Satu jam di halte
Hujan belum juga reda
Sekali lagi, aku ingin menatap hujan lebih lama
menikmati gigil dan kuyupnya 

Satu jam di halte,
Sudah 3 bus yang terlewati 
Petugas menawarkan karcis
Aku menggeleng
aku masih ingin menikmati hujan 

Satu Jam tigapuluh menit
Hujan menenggelamkann jalan raya
Tapi aku masih ingin menikmatinya 
Entah, untuk kesekian kalinya. 
Hujan mengambil sebagian diriku
Aku bidadari hujan 
Kesedihan hanya luruh dikala hujan 
Maka hujan paling kunanti
Hujan yang menenangkan hati
juga membawaku meninggalkan semua perih
bersama setelahnya ada pelangi... 


Sudah 4 bus, 
hujan masih dengan derasnya
tak ada penumpang, bus berlalu tanpa membuka pintu 

Aku? 

masih ingin menatap hujan lebih lama
disini
sampai hujan membawa risau pergi 
aku tak akan baranjak dari sini 

Hujan
bawa risauku pergi dari sini 
sungguh, aku memohon. 

-Bersama Hujan 
Batam, 26 Mei 2017. 

Ahlan wa sahlan Ramadhan 😊 
Hujan menyambutmu dengan rona bahagia. Terlebih aku, menyambutmu dengan tangis. Bukan bersedih. Tapi rasa syukur karena Allah masih mempertemukanku denganmu. Bantu aku, menjadi pribadi lebih baik. 




Pagi yang gugur
telah menyisakan keresahan 
degup dada tak menentu
mata yang tak mampu lagi berkedip 
luruh semua ingatan
tentang asa 
tentang Ara 

kekasihku, 

Pagi  telah gugur 
bersama serpihan harapan 
embun telah hilang 
dedaunan telah mengering
matahari mengambil bahagianya 

Pagi telah layu 
gugur bersama sepucuk rindu 
kita hanya sepasang embun
menghilang kala matahari datang 

Berguguranlah pagi 
Berguguranlah ragu
Berguguranlah resah

Aku ingin pulang 
menemanimu mengeja
pagi yang gugur 
menemanimu tanpa jeda 

Kekasihku,

Kita hanya sepasang embun
mendekap dedaunan pagi 
saling melepaskan saat datang matahari 


Batam, 24 Mei 2017. 

-dalam ruang pilu- 

3 jam yang lalu.

Berbicara tentang pulang, hati saya memang terlalu rapuh. Sedikit-sedikit menangis, bahkan seminggu ini selalu saja terbangun dini hari. Apalagi yang bisa saya perbuat selain doa yang hanya terus mengudara disetiap sepertiga malam. Rindu ini sudah keterlaluan.

Ya Rabb, perkenankan kepulanganku.

Kekhawatiran seorang ibu tidak akan ada habisnya. Sampai anaknya menikah pun, dia tidak akan berhenti memikirkanmu.

Sampai didetik ini, saya mungkin sudah melukai hatinya. Jikalau saya tidak pulang-lagi tahun ini.

Maaf, Ma. Anakmu tidak pernah ada disaat kamu membutuhkan bantuan. Sungguh, rindu ini sudah memuncak ingin memelukmu. Tangis yang tak bisa lagi tertahankan saat dirimu mengatakan "tidak usah pulang saja." Saya merasa seperti bukan siapa-siapa disini. Rasanya seluruh semangatku melebur, kuatku luruh. Sepasang mata ini mulai berair.

Lalu, kita berdua sama-sama diam. Saya berusaha menyembunyikan suara tangis dari mama...

mungkin-kita sama-sama sedang terluka.
lukaku mungkin tidak sebanding dengan mama, atau mungkin saja lebih buruk.

Aku telah melukaimu, Ma. Maafkan, atas ketidakpulanganku, maaf karena selama 365 hari hanya 5 hari saja waktu bersamamu. Tidak bisa ka berbuat apa-apa. Semua ini juga kulakukan untukmu.

Sekali lagi maafkan anakmu ini....
tidak pernah terbesit dibenaknya untuk melukaimu
sekalipun tidak pernah, ma.
hanya rindu yang terus tumbuh untukmu
hanya doa yang terus menyublin ke udara

Maafkan anakmu ini...
telah mengecawakanmu,
telah membuat hatimu terluka.
ridhoi perjalananku, ma.
sungguh, aku mencintaimu.

Untuk Mama, Hj. Hasni.

dari Anak gadismu, Sarni Kurniati.  
Jika kita menarik secara general bahwa umur manusia itu cuma 65 tahun dan manusia menikah pada usia 25 tahun, maka manusia menghabiskan 40 tahun sisa umurnya dengan pernikahan.
Maka dengan logika yang sangat sederhana tersebut, lebih dari setengah usia hidup dihabiskan dalam sebuah hubungan, siapa yang tidak mempersiapkannya dengan baik bisa jadi membuat 40 tahun tersebut menjadi waktu-waktu yang sia-sia, tidak bahagia, tidak menarik, dan sebagainya.
Persiapan pernikahan bukanlah sekedar walimahan dan pesta pora, lebih penting dari itu adalah ilmu, ilmu yang akan digunakan untuk mengarungi 40 tahun sisa umur manusia.
MOTIVASI

Setiap hal memiliki asalan yang mendorong terjadinya hal tersebut, tak terkecuali pernikahan. Setiap orang memiliki alasan tersendiri yang mendorongnya untuk menikah. Islam sebagai agama penyempurna memberikan koridor yang terang terhadap alasan-alasan tersebut.
Islam mengharamkan pernikahan dengan alasan yang buruk, misal laki-laki ingin menguasai harta perempuan, dan lain-lain.
Islam bahkan menjadikan pernikahan wajib hukumnya bagi seseorang yang telah mampu dan khawatir terjerumus ke perbuatan zina.
Ketika kita ingin menikah, kita harus menyelidiki diri kita sendiri, apakah motivasi kita sudah benar menurut islam ?
Menikah bukanlah balap mobil, berlomba-lomba untuk yang tercepat menikah. Menikah adalah amanah, niatkahlah pernikahan dengan niat yang baik. Maka Allah akan memberikan “amanah” tersebut diwaktu yang tepat.
MASA PERSIAPAN

Persiapan menikah meliputi persiapan ruhiyah dan jasmaniyah. Kita memperbaiki kualitas diri termasuk dalam persiapan ruhiyah. Mempersiapkan mental sebaik mungkin, mempersiapkan bekal ilmu yang cukup, Dan lain-lain.
Pada masa persiapan, kita juga dihadapkan pada aneka pilihan dalam wujud lahiriah, berupa umur, rupa, kesehatan, dsb. Meski kita tidak pernah tahu dengan siapa kita berjodoh, tapi kita selalu bisa mengusahannya.
Misal kita ingin pasangan kita lebih tua atau lebih muda 5 tahun dari kita, kita bisa mencarinya. Kita diberikan pengetahuan bahwa perempuan secara biologis lebih cepat menua baik secara fisik maupun psikis daripada laki-laki, sebab itu pula laki-laki disarankan mencari perempuan yang lebih muda darinya. Ini adalah saran-saran masa kini yang tentu saja tidak ada salahnya dipertimbangkan.
Perkara nanti jodoh bagaimana, itu urusan Allah.
Selain itu, persiapan lahirian bisa juga berupa persiapan secara materi. Meski rejeki sungguh urusan Allah, tapi seseorang yang mampu mempersiapkan kesiapan materi yang baik tentu akan lebih “pede” dan “yakin” dalam menatap masa depan pernikahanya. Laki-laki sebagai pemberi nafkah nantinya bisa dilihat kesiapannya dalam tanggungjawabnya dalam keseriusanya mempersiapkan hari esok setelah ijab kabul.
Asal kita harus selalu berpegang teguh, tidak menjadikan kesiapan materi sebagai indikator utama , itu hanya menjadi salah satu faktor kecil sebuah keseriusan. Dan tidak pula menjadikannya alasan untuk menunda-nunda pernikahan.
MEMPERSIAPKAN

Agar kita tidak mudah tergoda oleh laki-laki/perempuan lain ketika sudah menikah caranya mudah, dari sekarang carilah yang paling baik.
Paling baik menurut siapa ? Allah tentu saja.
Bagaimana mengetahuinya? caranya lihat diri kita sendiri, sudah sebaik apa.
Seperti telah diuraikan pada materi SPN sebelumnya, bahwa jodoh adalah perkara kualitas. Sekiranya kita telah memperoleh yang terbaik dan percaya penuh bahwa yang kita peroleh adalah memang yang terbaik. Inshaallah kita tidak akan mudah tergoda oleh yang lain ketika telah menikah.
Sebagaimana prolog diatas, bahwa kita akan menghabiskan lebih dari separuh hidup kita dalam ikatan pernikahan. Kita, sebagai generasi yang ditakdirkan masih lajang hingga hari ini, sediakanlah waktu untuk terus belajar tentang ilmu pernikahan. Pernikahan adal
ah perkara dunia dan akhirat. Ilmu untuk mengarunginya pun meliputi ilmu dunia dan ilmu akhirat (agama).
Perbaiki niat (motivasi) agar Allah memberikan petunjuk yang lurus, segala sesuatu sungguh bergantung pada niat. Dan ujian terberat bagi niat adalah komitmen akan niat tersebut. Semoga Allah menjaga niat kita tetap pada mulanya. Bahwa pernikahan adalah semata-mata jalan menuju keridhoan Allah.
Tulisan tentang materi SPN dapat disimak seluruhnya melalui tautan berikut ini : SPN SALMAN ITB
Penulis menerima saran, kritik, dan diskusi yang membangun.

dikutip dari http://kurniawangunadi.tumblr.com/tagged/SPN/page/2
Kemarin setelah berbuka puasa denga kurma dan ketoprak, selang beberapa menit semua makanan itu memaksa untuk keluar (red;muntah). Tidak menyisakan makanan sedikitpun di lambung, hanya tenggorokan terasa perih. 

Mata mulai berair, perut terasa perih sekali. Maag saya kambuh. Tapi masih juga memaksa diri untuk melanjutkan puasa. Tanggung, sebentar lagi waktu berbuka. Begitu terus alasannya. Maafkan saya wahai diri. Kamu mungkin butuh istirahat. Ah, bukannya stase ini adalah surga bagi koas? Tanpa jaga bangsal, jaga malam. Bahkan kamu masih bisa menamatkan 3 buku dalam sebulan ini kan sar? Iya, sudah 3 buku selama hampir 2 bulan. 

Sudah tahu perut kosong, tapi masih juga gak nafsu makan. Namanya orang sakit. Sampai tadi siang, lambung baru terisi kembali. Dasar, katanya calon dokter,tapi  makannya aja gak teratur. Ilmu yang kamu miliki ini minimal untuk dirimu sendiri, Sar. Jangan cuek dengan hak dirimu. Fisikmu sudah menunaikan kewajibannya. 

Sementara di langit simbur naik. 

Magrib tadi, Bapak membawa kabar lewat telfon, Abrar sakit. Menyusul kemudian kabar dari Lato Aji yang mengalami sesak sejak kemaren dan sekarang dirawat di puskesmas lambur luar. Saya tidak pernah mengabari kondisi sakit yang sering saya alami disini. Anakmu ini malu kalau terus mengeluh di hadapan ta, Pa. 

Dalam dua hari, Saya, Abrar, Lato aji seperti saling memberi sinyal. Kami seolah terikat batin... Iya, dua cucunya kakek yang begitu rindu dengan beliau. Dua cucu kakek yang sudah lama sekali tidak pulang. Terutama saya. selama 2 tahun alfa mencium tangan, dan memeluk Lato Aji. Muddanika sama kita, Lato Aji. Semakin dekat dengan ramadhan, saya semakin takut, takut tidak bisa pulang. Takut, kalau Allah tidak lagi memberi waktu dan kesempatan memeluk Lato Aji dan Nenek Aji. Saya takut tidak bisa bertemu dengan mereka. 

Doakan saya, semoga tahun ini Allah perkenankan memeluk rumah. 
Doakan Lato aji dan Adik saya, semoga Allah gugurkan dosa2 mereka, Allah panjangkan umurnya, dan lekas diberi kesehatan.  

Sarni sangat rindu rumah dan seisinya, juga simburnaik dan langitnya. 

Ya Rabb, perkenankan kepulanganku. 

Maka beruntunglah kamu yang telah disempurnakan dan menyempurnakan...

------

Barusan baca tulisan salah satu blog favorit saya. Tiba-tiba ingin menulis ini.

Siapakah dia yang bisa menerima segala kekurangan diri ini? Saya yang bisa tiba-tiba begitu bahagia, beberapa kemudian raut mukanya bersedih. Yang suka ngambek, bahkan bisa berhari-hari, lalu diam seribu bahasa. Saya yang kadang terlalu rajin, ingin mengerjakan banyak hal, melakukan hal-hal baru, merasa mampu melakukan sendiri, padahal ia butuh bantuan orang lain. Saya yang lebih suka datang ke tempat sunyi (pantai) daripada mall, Yang bisa menghabiskan weekend nya sepanjang hari dengan membaca dan nonton. Saya yang tidak bisa mengatakan tidak soal membeli buku. saya yang belum bisa menjadi perempuan-perkara makeup. saya yang  keras kepala soal meraih impian, yang nekat  pergi sendiri selama saya yakin jalan yang ditempuh adalah kebenaran. Saya yang lahir dari keluarga yang tidak hangat, tapi bercita-cita memiliki keluarga kecil yang harmonis...

Siapakah dia yang mengerti dan tidak pernah lelah memahami maunya saya?
dia yang akan selalu ada dikala saya jatuh dan terluka
dia yang tidak menganggap lemah tentang apa yang tidak mampu saya lakukan
dia yang selalu berusaha menyeimbangkan langkah saya
dia yang akan mendengarkan dengan tatapan mata penuh cinta terhadap apapun yang saya ceritakan setiap malam disisinya
dia yang akan meredam dengan memeluk saya setiap saya mulai ngambek
dia yang tidak akan bertanya kenapa saya harus membeli buku ini dan itu
dia yang akan mewujudkan impian saya memiliki keluarga kecil yang harmonis.

Siapapun dia, semoga kita saling menyempurnakan.


Salam,

Yang ingin disempurnakan dan menyempurnakan.



Dini hari dan sepasang mata ini masih terjaga.

01.28

Rindu ini sudah pada tahap keterlaluan
Sungguh, aku ingin mati memeluknya
aku ingin memaki rindu
kenapa rindu setega ini padaku?
kenapa ia harus bertubi-tubi menghujam dadaku?
merenggut kedua mataku dari lelapnya
merasuki mimpi tentang dinding rumah kayu
meresahkan hati dan pikiranku sepanjang langit gelap

Rindu dendamkah ini?
Dendam atas ketidakpulanganku tahun lalu
Apakah aku sedang membalaskan dendamku pada rindu
Seperti inikah ditikam rindu?
diam-diam, dan resah merasuki seluruh jiwa

Rindu dendamkah ini?
hingga pagi mata ini masih saja terjaga
mengawasi fajar yang diam-diam datang
akan membawaku pergi dari sini

Rindu dendamkah ini?
demi sepasang mata yang menunggu di ambang pintu
biar rindu menikamku
biar aku mati memeluknya
biar mataku lelap bersama denyut ubun
menangis, tergugu, karena rindu


-----------------------
Simsalabim ..... tidurlah, sar. Hapur airmatamu.  ;)


Salam,

Dari yang mau menyulap rindu jadi sesuatu


Krim Pesan

Name

Email *

Message *

Translate