Catatan Harian Sakura

Karena dengan menulis, segala bentuk kebaikan tidak akan berhenti di depan matamu
Follow Me

Ingin Jadi Pengarang, Mulailah Sekarang!



By  Sarni Kurniati     4/05/2011 04:37:00 AM    Labels: 

Bila kita membaca karangan seseorang, terkadang timbul pertanyaan. Bagaimana orang itu bisa mengarang? Dari mana idenya? Perlukah diadakan riset, atau memang semata-mata khayalan belaka? Mengapa karangannya enak dibaca? Apakah dia terus mengerjakannya, atau ada masa-masa buntu? Bagaimana menyiasatinya?

Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya sangat mendasar, pun selalu ada bila kita hendak mulai mengarang. Satu yang tak bisa dilupakan, mengarang adalah ibadah (i.e tergantung jenis tulisannya), lantas, bagaimana cara mengarang yang meninggalkan setitik kesan bagi pembacanya?

Mari kita mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Seseorang bisa mengarang, karena dia telah memulainya. Ia telah bertekad untuk mengarang, hingga boleh dikatakan TEKAD ini adalah modal dasar yang pertama.

PUNYA KEMAUAN

Ada yang mengatakan, mengarang hanya memerlukan bakat sebanyak 5 %, selebihnya adalah kerja keras. Tapi bagi saya, tanpa kemauan, kerja keras pun tak ada gunanya.

MENDAPATKAN IDE

Ide itu bisa muncul dari mana saja. Ia bisa didapatkan melalui bacaan, pendengaran, perasaan, dan penglihatan atau pengamatan. Ide akan selalu siap Anda tangkap ketika membaca koran, buku, atau majalah, memandangi taman bunga, melihat kerumunan orang di pasar, dan lain-lain.

Ide juga bisa lahir dari perasaan - sedih, gembira, gundah, gelisah, marah - dan ketika Anda mendengarkan radio atau obrolan teman Anda. Ide juga bisa
didapatkan ketika Anda membaca cerpen orang lain, apalagi penulis cerpen kenamaan yang karyanya sering muncul di media massa. Just try!

Ada pengarang yang sebenarnya tak punya ide apa-apa, tapi begitu menghadapi mesin tik atau komputer, ide itu terus runtun dan mengalir. Mengapa? Rahasianya mudah saja, karena dia telah menguasai bagian-bagian
teknik mengarang--terlebih lagi tanda-tanda baca yang tak boleh dilupakan--dan telah mampu menyikapi jalan pikirannya dengan baik untuk menciptakan,
mempermainkan, atau memanipulasi tokoh-tokoh ciptaannya.

Saya seringkali membiarkan tokoh-tokoh saya bergerak sendiri, saya seperti membiarkan saja apa yang mereka mau pikirkan, lakukan atau pun mungkin bikin gebrakan yang mengejutkan. Saya biarkan tokoh-tokoh itu mengalir begitu saja dan saya jadikan mereka sebagai 'para punakawan' sementara saya 'dalang'nya yang menguasai mereka tapi tidak mengatur mereka.

RISET?

Boleh, bila memang yang hendak kita karang itu sesuatu yang memang memerlukan riset. Misalnya kita hendak mengarang tentang seorang yang pekerjaannya mencari mutiara. Kita harus tahu berapa lama seseorang bisa menahan napas di dalam air. Mutiara yang ditemukannya, apakah sudah dalam bentuk jadi, atau masih perlu diolah. Bila kita tidak mengetahui hal itu, kita perlu membaca buku (dalam arti riset kecil). Atau bila ingin lebih detil sesuai dengan kebutuhan yang hendak kita tulis, tak ada salahnya kita mengamati langsung bagaimana para penyelam mengambil mutiara.

Tapi banyak pula pengarang, termasuk saya, yang seringkali mengadaptasi apa yang telah saya alami, meskipun itu semua dimanipulasi dengan kebisaan kita
sendiri.

GIMANA KALAU BUNTU?

Endapkan saja, kaji lagi, baca lagi, tulis lagi. Bila masih buntu? Lakukan hal yang sama, dan gunakan waktu yang luang untuk membuat cerita yang lain. Dengan cara seperti itu, kita mulai bisa mengolah setiap ide yang datang.

MOOD BERPERAN?

Abaikan soal itu. Karena, mood (dalam hal mengarang) adalah kata yang tak boleh dipercaya, selain kata sulit. Bila kita harus menunggu mood datang, kapan kita akan memulai. Bila kita mengatakan sulit, kapan kita akan mempermudahnya?

Satu hal kebiasaan saya yang perlu saya ceritakan di sini, saya tidak pernah memulai sebuah karangan baru bila karangan yang sebelumnya belum jadi. Meskipun dalam keadaan buntu, saya tetap tidak akan memulai karangan yang baru. Saya biarkan saja dan saya tetap tidak memulai karangan yang baru meskipun itu memakan waktu berhari-hari. Mengapa? Mungkin jawabannya, saya tidak mampu menguasai tokoh-tokoh saya yang saya beri kebebasan untuk bergerak sendiri.

*****

About Sarni Kurniati

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas euismod diam at commodo sagittis. Nam id molestie velit. Nunc id nisl tristique, dapibus tellus quis, dictum metus. Pellentesque id imperdiet est.


Krim Pesan

Name

Email *

Message *

Translate