Catatan Harian Sakura

Karena dengan menulis, segala bentuk kebaikan tidak akan berhenti di depan matamu
Follow Me

~Tuhan, Damaikan Mereka….~



By  Sarni Kurniati     4/03/2011 04:10:00 AM    Labels: 


Aku hidup dikeluarga yang mapan. Semua Fasilitas telah memadai, hanya saja, aku tak merasakan kebahagian dari fasilitas yang mereka berikan padaku. Bagiku, harta takkan lekas  membuatku bahagia. Kesibukan kedua orangtuaku, membuatku haus akan perhatian. Mereka tak pernah menanyakan sedikit pun makanan yang kusuka, mereka tak pernah menanyakan cita-citaku ingin menjadi apa. Mereka pun tak pernah hadir setiap ada surat panggilan dari sekolah untuk rapat antara orang tua siswa dan majelis guru. Sejak SD, mereka tak pernah hadir saat aku perpisahan disekolah, hingga kini, aku beranjak ke Madrasah Aliyah. Pernah suatu hari, aku akan menerima Rapor semester dua dan yang berhak menerimanya adalalah Orangtua siswa. Aku iri melihat temanku didampingi oleh orangtua mereka, sementara aku duduk dibangku pojok sendiri tanpa ditemani Ayah dan Ibu. Aku ingin seperti mereka yang selalu didampingi oleh Orangtua. . Orangtua yang tidak super sibuk. Orang tua yang selalu akur.
Aku kembali didera derita yang kian bertubi.Aku mendengar kabar buruk, bahwa Ayah telah menghianati Ibu. Ayah mempunyai wanita simpanan, dan lebih menyakitkan lagi, wanita yang jadi simpanan Ayah tak lain adalah sahabat Ibuku, sekaligus orang yang sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri. Sempat terlintas dibenakku, Ayah macam apa dia. Aku selalu mengumpat tentangnya, terlebih pada wanita simpanannya. Andai dalam Agama di perbolehkan menghilangkan nyawa, mungkin aku akan mengubur wanita itu hidup-hidup, tapi tidak. Akupun masih punya hati nurani, tapi rasa amarah itu tak lekas surut dari hatiku. begitupun dengan Ibu, pasti ibu  akan sangat marah terhadap mereka berdua.
Kala itu, Ibu belum tahu kabar tentang hal ini. Hanya aku dan segenap keluargaku yang tahu. Lambat laun, Ibu pun tahu semua penghianatan Ayah. Ibu sangat marah besar, hingga dia meminta cerai dari Ayah, tapi Ayah tak pernah menanggapinya. Dan akulah KORBAN dari kejadian ini. Aku yang kena getahnya, jika Ayah dan ibuku berpisah maka akupun harus berpisah dengan pendidikanku aku harus berhenti sekolah untuk membantu Ibu bekerja karena akulah anak tertua, sementara adikku masih kelas satu SD. Aku semakin tak bisa menerima semua ini, tapi apa yang bisa kuperbuat, hanya berdiam diri melihat mereka setiap hari bertengkar.
Aku hanya mampu berdoa agar Api yang kian berkobar ditungku mereka segera padam. Ibu adalah wanita yang keras hati, aku tak yakin Ibu akan memaafkan Ayah, aku tak yakin Ibu akan menerima Ayah kembali.  Aku semakin kalut, ketika Ibu mengusir Ayah dari rumah. Aku akan kehilangan Ayah dan juga pendidikanku, tidak akan kubiarkan itu terjadi. Berkali-kali aku memohon pada Ibu untuk memberikan kesempatan pada Ayah, tapi Ibu tetap pada pendiriannya. Kulihat Ayah yang tengah menangis ditengah jalan, menyesali perbuatannya. Tetap saja Ibu menutup mata, ini adalah yang kedua kalinya Ayah memparlakukan Ibu seperti ini. Terang saja kalau Ibu begitu membenci Ayah. Takkan ada wanita yang rela membagi cintanya kepada wanita lain.

Aku tak ingin kehilagan mereka, aku tak sanggup melihat mereka selalu bermain api. Aku bosan mendengar mereka bertengkar. Tuhan, tolong rekatkan kembali kedua orangtuaku dengan tangan-Mu, jangan biarkan mereka lalai menjadi orang tua yang baik untuk anak-anaknya. Tuhan, bukakan pintu hati mereka agar saling menerima dan memahami. Tuhan, Damaikan mereka.

Inilah catatan cenat cenutku sepanjang umurku, cenat cenut bukan karena jatuh cinta tapi karena aku takut kehilangan orangtuaku.

About Sarni Kurniati

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas euismod diam at commodo sagittis. Nam id molestie velit. Nunc id nisl tristique, dapibus tellus quis, dictum metus. Pellentesque id imperdiet est.


Krim Pesan

Name

Email *

Message *

Translate