Catatan Harian Sakura

Karena dengan menulis, segala bentuk kebaikan tidak akan berhenti di depan matamu
Follow Me

Ibu, Dengarkan Aku!



By  Sarni Kurniati     9/11/2011 08:59:00 PM    Labels: 


Peristiwa Jum’at Kliwon pada 8:14

Ya Allah
Maha Penggenggam Hati
Kurasakan sakitnya sakit hari ini
Aku pasrah
Tapi batinku berontak
Kumohon buka pintu hatinya
Inginku kembali menghirup udara pendidikan
(Status Edisi Luapan Hati Angsa Putih)

Aku bergegas mengemas barang-barang yang hendak kubawa pergi untuk mengenyam pendidikan. Tapi langkah ini terhenti setelah mendengar suara lantang seseorang yang akrab kupanggil Ibu. Dengan lantang ia menuturkan kalimat yang membuat jantungku berhenti berdetak sejenak, hingga keringat membasahi jilbabku.
“Kau tak boleh sekolah lagi, lihat sekelilingmu. Dengan apa kita harus membayar hutang jika kau sekolah?”  
Aku  hanya menunduk dan kembali merebahkan koperku ke lantai. Aku mengerti keinginannya. Tapi tidakkah sedikit dia mengerti keinginanku?
Aku ingin sekolah. Aku ingin jadi dokter. Aku ingin mimpi-mimpiku terwujud. Bukankah Ibu sendiri yang membukakan pintu untukku? Lalu kenapa sekarang kau menutupnya rapat? Kenapa, Bu? Apa karena Uang? Kalau itu masalahnya, aku bisa cari uang sendiri jika Ibu berat membiayaiku. Batinku mengamuk sejadinya.
Kucoba menyembunyikan air mataku di hadapan ibu. Semua orang menatapku, mereka keluar dari toko lalu pergi seolah takut melihat amarah Ibu. Bahkan Ayah tak berkutik melihat amukan Ibu. Pikiranku kacau balau, rupanya tak selamanya seorang Ibu memikirkan masa depan anaknya. Seperti Ibuku yang  egonya selalu diutamakan. Pikiran buruk tentang Ibu mulai memenuhi Otakku. Ibu itu Jahat, kejam, overprotective, egois, tak pernah menanyakan keinginanku, cita-citaku, hingga makanan favoritku. Yang di pikirannya  cuma Uang, Uang dan Uang! Semuanya Uang. 
Ah, tak kuasa lagi membendung air mataku. Aku berlari meninggalkan mereka, menuju rumah Tante yang tak jauh dari toko. Berlari menuju kamar.
“dak jadi berangkat ya, Nak?” kudengar suara Tante yang sibuk di dapur.
Aku tak menjawab dengan kata-kata. Hanya isak tangis yang terdengar. Tante langsung mendatangiku ke kamar dan menanyakan tangisku.
“Aku dak dibolehin sekolah, tante.” Tangisku memuncak ketika Wanita yang lebih tua dari Ibu merangkul tubuhku dan ikut menangis bersamaku.
“Ibumu memang begitu. Kalau emosi semuanya tak terkendalikan, yang dia cari hanya Uang tanpa memikirkan anak-anaknya. Dia orang yang tidak pernah bersyukur dengan apa yang didapatkan selama ini, tidak puas dg yg didapatkan sekarang lalu dia ingin merenggut pendidikanmu. Jangan sedih, jika sungguh-sungguh sarny pasti masih bisa sekolah.” Hangat sentuhan jemarinya menghapus air mataku.
Seluruh orang di rumah itu memberiku dukungan agar aku tetap semangat mengadapi hidpu ini, Dukungan mereka begitu membangkitkan semangat hidupku.



  




About Sarni Kurniati

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas euismod diam at commodo sagittis. Nam id molestie velit. Nunc id nisl tristique, dapibus tellus quis, dictum metus. Pellentesque id imperdiet est.

No comments:

Post a Comment


Krim Pesan

Name

Email *

Message *

Translate