Catatan Harian Sakura

Karena dengan menulis, segala bentuk kebaikan tidak akan berhenti di depan matamu
Follow Me

Pemuda Dalam Mimpi Alfa



By  Sarni Kurniati     9/30/2011 02:38:00 AM    Labels: 

Hanya Sebuah kisah pendek yang dipetik dari mimpi. Per5isnya 1 minggu lalu.
Simak!!!


"Hey, jangan ngebut bodoh! Kau mau membunuhku ya?" kataku sambil menggebuk punggungnya.
Bagaimana aku tak kesal, dia menancap gas m0tornya yang melaju diatas bebatuan yang belum digiling, masih utuh tapi gak sebesar bola yang ditendang aa'gonzales kok. Bisa dibayangkan betapa tersiksa duduk diatas motor yang melaju kencang melewati bebatuan. Arrgh... berulang kali aku menegurnya tapi ia tak juga menggubrisku.
"Kau mau bawa aku kemana?"
Lagi-lagi dia hanya sibuk menghindari bebatuan besar di jalan yang kami lewati.
Saat tiba di suatu tempat sepertinya tak asing bagiku. Kami berhenti tepat di depan gedung bertingkat satu lusin itu lalu  menggiringku seperti bola basket yang akan masuk ke ring mencetak angka, dia menggiringku dengan paksa masuk ke dalam gedung tanpa sekatapun.
"Oh my god. Apa-apaan ini?” Teriak batinku.
Aku hanya mematung di hadapan mereka. Suasana menegang, rasanya otot-otot wajahku kesetrum bola lampu yang menggantung tepat diatas kepalaku.  Aku seperti berada di ruang persidangan, menatap mata mereka satu persatu, face to face. Berhadapan dengan para hakim yang siap mengetuk palunya ke kepalaku jika aku mencoba berteriak lagi. Hal pertama dipikiranku  adalah bagaimana caranya kabur tanpa diketahui oleh mereka. Aku harus punya ide untuk keluar dari sini, tapi gimana caranya? Pikirku.
Ahaaa… bola lampu di kepalaku tiba-tiba mentransver aliran lisrtik hingga menjalar ke otakku.
“Aduuuh, perutku sakit. Aku mau ke toilet dulu ya?” kataku pada pemuda masa depan ini, aku meninggalkannya sembari  memegang perutku yang kubilang sakit, padahal tidak. Biar aktingnya keren…
Toilet? Ngapain juga aku ke toilet? Sakit perut juga enggak, justru aku harus mencari lubang yang besar untuk keluar dari gedung ini. Akhirnya dapat juga lubang buaya yang muat dengan pinggangku yang lebar ini, semoga saja buayanya pada tidur karena jika tidak aku akan diseret kembali ke dalam mulutnya. Aku berjalan mengendap-endap seperti gaya maling jemuran di kompleksku, mataku berburu mencari jalan mana yang harus kulalui untuk sampai ke lantai dasar dan segera lenyap dari sini.
Tak semulus jalan tol. Rupanya dia si pemuda masa depan itu menunggu aku di depan pintu keluar. Dia adalah pemuda masa depanku, kata Ayah. Pemuda berkulit putih seputih kapas muka dengan poster tubuh yang ideal seideal patung di toko baju milik orangtuaku, juga berpendidikan dari luar negeri itu telah lama di tunangkan denganku, tapi aku tidak menyukainya sedikitpun. Dia memang sudah mengenalku sejak lama, jadi mudah untuknya menebak gaya coolku setiap mencoba kabur dari acara pertunangan aku dengannya, dan ini yang ke tiga kalinya setelah dua tahun yang lalu aku mencoba kabur.  Tapi seperti nya kali ini  aku takkan lolos dari cengkraman buaya. 
“Jangan pergi lagi, cukup lama aku menanti hari ini. aku mohon kembalilah ke acara pertunangan kita.” Pintanya sembari menyambar tanganku ke dadanya.
Aku melihat segumpal cinta di balik tatapannya. Aku tahu dia menginginkan perjodohan ini tapi aku tak bisa bertunangan bahkan menikah dengan orang yang tak kucintai. Tapi kulihat dia begitu tulus, matanya berkaca-kaca. Aku iba melihatnya Akhirnya aku memutuskan  mengikutinya untuk meneruskan bertunangan. Keraguan tiba-tiba hadir dibenakku. Satu, Dua,  Lima langkah  aku berlari sekencang-kencangnya menuju pintu keluar dan pergi meninggalkannya. Aku  berlari sejauh mungkin tanpa arah dan tujuan, berharap dia tak lagi mengejar aku.

***

Jalan kutempuh bukan lagi jalan yang mengelilingi Gedung, tapi sepertinya aku kesasar di sebuah Hutan yang tak jauh gedung.  Tapi kenapa banyak orang yang berlari seperti dikejar sesuatu, entahlah. Aku menoleh kebelakang masih tampak dia yg berlari mengejarku sedari tadi. Terus berlari dan tiba di lorong yang becek dan disekelilingnya pohon-pohon besar . Aku melihat seseorang, wajahnya tak jelas karena cahaya bulan tertutupi pohon-pohon yg menjulang tinggi. Aku bertanya perihal orang2 yg berlari di lorong ini. Aku mendekatinya seraya berkata,
"kenapa dengan mereka? Kok larinya seperti ketakutan, apa yg mengejar mrka ?"
 "Dibelakang ada anjing gila, didepan juga ada. Kita harus melewatinya karena hanya ini jalan yg bsa dilalui" lelaki ini juga berlari tapi tidak terbirit-birit seperti yang lainnya.
Anjing? Dari tadi aku tidak melihat apapun selain mereka yang sibuk mengatur langkah tercepatnya.
"Bagaimana caranya?" sambil menoleh kebelakang, rupanya cowok bodoh itu sudah sangat dekat. Ternyata benar, dia juga dikejar anjing-anjing itu.
"Naiklah kepunggungku"
Dia menawarkan punggungnya untuk kunaiki.
"Untuk apa?" sambil garuk-garuk kepala.
"Kau ingin keluar dari sini kan? Kau tak kuat lagi untuk lari kan? Cepatlah naik mereka semakin dekat"  
 Apa Aku harus naik kepunggungnya?  Tak ada pilhan lain, pikirku.
"Kita akan melewati anjing-anjing itu, tapi jangan sekalipun kamu menatapnya sbelum kita melewatinya" Ajarnya.
"Heran, Kenapa aku tak boleh melihat anjing itu?"
"Mereka akan mengejar kita" jawbnya sembari berlari kecil menuju pagar tinggi yang berada di ujung jalan.
Awalnya kuturuti apa katanya. Tapi, Ah... mata dan mulutku tak bisa di ajak kompromi.
“Dimana? Aku tak melihat seekor pun. Mana ada anjing di sini?” Bisikku di telinga lelaki yg kujadikan kuda ini. Yah, dia pangeran berkudaku yang menyelamatkan  aku dari gerombolan mahluk berkaki empat itu
 "Fatal. Coba lihat di belakang kita" dengar dari Suaranya seperty nya dia kesal karena aku tidak menghiraukan ucapannya tadi sebelum aku naik ke punggungnya.
"Maaf."
Yah... Hanya maaf yang bisa kukatakan padanya. Ingin aku menemaninya berlari tapi dia tidak mau menurunkanku dari punggunnya. Kasihan dia, dengan tergopoh-gopoh membawaku hingga ke ujung jalan yang cukup jauh ditempuh oleh kedua kaki kurusnya yang dlilit dgn celana jeans.
To be Continue>>>


About Sarni Kurniati

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas euismod diam at commodo sagittis. Nam id molestie velit. Nunc id nisl tristique, dapibus tellus quis, dictum metus. Pellentesque id imperdiet est.

No comments:

Post a Comment


Krim Pesan

Name

Email *

Message *

Translate