Catatan Harian Sakura

Karena dengan menulis, segala bentuk kebaikan tidak akan berhenti di depan matamu
Follow Me

TANGAN-TANGAN TUHAN



By  Sarni Kurniati     11/23/2011 12:50:00 AM    Labels: 
Tangan-Tangan Tuhan
By Sarny Al-boegisy

Fajar mulai menyinsing pagi. Kubuka tirai jendela yang berwarna kecokelatan, Pagi ini begitu cerah. Terdengar suara kokok ayam bersahutan. Kicauan burung-burung gereja menenepis kantukku. Matahari kian meninggi, membuat pikiran tak lagi focus saat belajar matematika. Sesaat dadaku sesak, rasanya ingin berlari tapi kaki tetap kaku di sini. Duduk diantara tigapuluh kepala mungkin kepalakulah yang akan meledak, paling panas. Diantara tigapuluh pasang mata mungkin matakulah yang berlinang, menghujankan atom-atom bening yang mengucur deras lebih deras dari air terjun. Aku tahu dia akan tiba di kelasku setelah melelang nama di tiap kelas. Suara hentakan sepatu hitam begitu mendengung di telingaku. Dia hampir meraih pintu, hingga kudengar suara pintu terdorong, kupandang ia dari ujung ke ujung. Tanpa permisi, dengan lantang suaranya menggema menguasai celah telingaku yang makin panas sebab namaku termasuk salah satu yang terlambat mengumpulkan SKHUN. Yah, namaku adalah Hunaisyah. Telah diklaim tak akan mengikuti ujian nasional tanpa SKHUN. Apa bisa dikata, berkas  yang asli  telah hilang. Sementara yang ada padaku adalah berkas hasil sementara dan tidak bisa digunakan sebagai syarat pelengkap peserta ujian nasional tingkat sekolah menengah atas. Entah dimana ia terselip di antara berjuta berkas-berkas di kantor diknas.
Tibalah aku di puncak gunung merapi, merasakan panasnya lahar yang membara. Aku mengalir bersama lahar panas yang meleleh hingga ke kaki gunung.  
Oh Tidak…. Aku terbakar Habis, habis tak bersisa, terkikis sudah mimpiku, semua tinggal abu. Hidupku kini kelabu. Hidupku hitam menghitam. Aku jatuh tergeletak ke dalam hitamnya hidup. Tangan-tangan mencoba menarikku ke atas. Tapi aku tak berdaya lagi. Tangan ini takkan meraih apapun juga tak akan menggenggam siapapun. Aku mulai menuntut mereka yang tak bertanggung jawab. Merekalah yang merampas hakku mendapat pendidikan. Mereka yang melenyapkan berkas berharga milikku. Takkan pernah termaafkan jika itu nyata, aku tidak terdaftar sebagai peserta ujian nasional. Bersiaplah kalian, aku tidak akan ikhlas selamanya.  Kalian akan kuhantui dengan berjuta kesalahan.

Beribu pertanyaan yang menggantung di pikiranku. Bagaimana mungkin mereka seceroboh itu, mereka memang bodoh. Ingin kutuntut saja mereka, menjebloskannya ke penjara. Dasar manusia tak bertanggung jawab. Jujur, pikiranku begitu kalut, seperti benang kusut teramat kusut. Aku berontak, aku menangis sejadinya. Kini semua mata tertuju padaku, melontarkan tanya ada apa dengan mataku yang sembab, pipiku yang lembab. Aku tak menjawab. Bibirku terkatup rapat. Ternyata ada yang melebihi dari sakit gigi. Mereka menggotongku ke UKS, mengobati luka yang tak berdarah ini. Aku tak sadarkan diri.

Pelan-pelan aku membuka mata. Satu harapanku, saat mata ini menerima cahaya aku ingin sakit ini lenyap. Terlihat samar-samar wajah anggun yang di selimuti kerudung putih. Pemilik wajah anggun, dialah sahabatku. Bunga dan Twita. Aku merangkul bahu mereka.

“Aku tak sanggup hadapi semuanya sendiri, Ta” aku mengeluh di bahu sahabatku, Twita. Kutumpahkan air mataku yang amat mengalir deras sederas air terjun.

“Kau tidak sendiri, kau punya kami yang akan membantu menghadapi semuanya, percayalah pasti ada jalan dari masalah ini.” Twita mengelus-elus punggungku. 
Dengan lembut jemarinya menyeka pipiku yang basah.
Kurasakan tangan halus Bunga ikut mengelus tanganku. Saat aku berduka, merekalah tempat aku bercurah. Aku mulai lelah. Ingin kurebahkan tubuhku ke kasur empuk dan menutup kepalaku dengan sepuluh bantal guling berharap air mataku tak lagi keluar.  Aku ingin segera pulang, tapi aku tak kuat mengendarai motor sampai ke rumah yang jauh sepuluh kilometer dari sekolah, tidak  mungkin aku menyuruh mereka mengantarku sementara waktu sudah sore. Cukuplah aku menangis di pangkuan mereka, sungguh aku tak ingin membebani sahabatku. Kupaksakan kaki untuk melangkah menuju parkir yang lumaya jauh dari UKS. Aku menangis sepanjang jalan pulang. Adakah di antara telinga tertutup mendengar tangisku? Tak ada. Telinga mereka tak sudi mendengar isak tangis. Aku menancap gas, sangat laju. Entah dimana tubuhku akan rebah. Otot tangan dan kaki melemas, tak kuat lagi  menginjak rem  saat motor matic mencoba memotong jalanku.

“Brukkk….”

Kurasakan tubuhku terguling, tergelatak tak berdaya di tengah lalu lalang kendaraan. Tak mampu berdiri, menggerakkan kaki pun aku tak kuasa. Sakit luar biasa terasa. Tak hendak membuka mata karena aku takut cairan merah meluncur deras dari sela-sela kulitku, aku takut jika tangan dan kaki ini telah lepas dari tungkainya. Aku tak kuat menahan sakit di bagian kepala. Nafasku tersengal, dada begitu sesak. Aku menghela nafas sejenak lalu terlelap. Entah siapa yang memungutku.

***

Aku masih bidadari. Bidadari yang sayapnya telah patah, yang semangatnya telah terkikis. Bidadari yang kehilangan selendang biru. Tanganku tak lagi memegang tongkat ajaib melainkan pisau belati yang seketika hendak menebas leherku yang terkulai lemas di atas ranjang pesakitan. Bunuh aku sekarang juga jika bisa lenyapkan laraku. Akulah bidadari berjubah hitam tanpa sayap. Aku butuh selendangku tuk kembali ke kayangan, memohon pada dewa tuk gantikan sayapku. Aku butuh putih tuk beningkan jiwaku yang hitam. Tapi dimanakah  putih itu? dimana? Tak ada yang tahu.

Aku masih di sini menangisi nasibku yang malang. Aku kehilangan hak untuk mendapat pendidikan dan aku hampir kehilangan diriku. Tanpa SKHUN aku tak akan mengikuti ujian nasional, dan  tanpa ruh jiwaku takkan hidup. Dan aku telah kehilangan separuh dari jiwaku.

Oh Tuhan, Apa yang hendak Kau tunjukkan padaku? Apa rahasiamu di balik dukaku?

Hatiku meringis. Memohon pada Ilahi agar aku kuat menghadapi cobaan ini. Tak lekas patah arang saat aral melintang. Batinku tersungkur di atas sajadah kalbu. Aku teringat zikir. Setelah bertahun-tahun aku lupa bahwa aku punya Tuhan, Sang Pemilik langit dan bumi. Selama 16 tahun tubuh ini dihuni ruh, selama itu pula aku lalai mengingat-Nya. Aku begitu terpanah mengagumi ciptaan-Nya tapi aku lupa mengagumi  Penciptanya. Dialah yang berhak menentukan takdir hidupku, bukan yang lain.
Dua hari aku hanya terbaring lemah di ranjang pesakitan. Belum lepas juga perban yang membalut kepalaku akibat terbentur batu, masih agak pusing jika diajak berpikir keras.  Tapi aku tak bisa jika hanya diam menunggu hidayah turun dari langit. Aku harus bergerak sendiri jika pihak  sekolahku  dulu telah lepas tangan dari masalah ini meskipun ragaku lemah. Langkah pertamaku adalah menceritakan masalah ini dengan salah satu guru yang akrab denganku, Pak Dito. Aku meminta sarannya dan beliaulah yang membantuku untuk berbicara mengenai hilangnya berkasku dengan pihak tata usaha yang mengurusi pengiriman SKHUN ke kantor diknas. Aku berharap ada toleransi dari pihak sekolahku, sedikit saja. Setidaknya aku masih punya harapan. Aku menunggu di bawah tangga samping pintu kantor. Beberapa saat kemudian, Pak Dito keluar dari ruangan tata usaha. Aku menghampiri beliau dan menanyakan perihal tersebut.
“Maaf, Nak. Mengenai SKHUN yang asli dan yang sementara memang harus berkas asli yang harus diserahkan. Upayakan berkas aslinya ada, pihak sekolah tak bisa bantu banyak, hanya diberi tenggang satu minggu untuk mengumpulkannya dan Bapak juga tidak bisa bantu sepenuhnya” ujar Pak Dito.
“Tapi Pak, gimana kalau berkasnya sudah hilang? Benarkah tak ada solusi lain?” tanyaku lagi. Suaraku terdengar parau, mataku mulai berkaca-kaca.
“Lebih baik cek langsung ke kantor diknas, tanyakan apa masih ada arsipnya dan perlihatkan berkas SKHUN sementaranya. Bapak yakin mereka masih menyimpan arsipnya.” Solusi pertama dari Pak Dito aku tampung dalam langkahku selanjutnya.
Sedikit lega mendengar satu solusi dari masalahku. Setelah mendapat konfirmasi dari pihak sekolah, aku bisa melangkah sekarang juga. Teman-teman sekelasku mulai prihatin dengan masalah yang kuhadapi sekarang. Mereka menyodorkan banyak solusi dan mencoba membangkitkan semangatku. Selalu memberiku senyum dan melucu di hadapanku. Aku senang mereka begitu memperhatikanku. Meski aku telah diklaim tak akan mengikuti ujian, aku harus tetap belajar sampai akhir walau nanti tanpa ijazah. Akan kulakukan apa yang bisa kulakukan saat ini, karena jika aku diam maka aku pasrah dengan keadaan. Aku tak akan menyesal jika memang nanti nasibku buruk karena aku telah berusaha walaupun tak sesuai dengan harapanku. Aku seolah bangkit kembali. Tapi ada yang kurang, Ayah dan Ibu tak mengetahui masalahku. 
Siang ini aku duduk di atas kursi goyang milik nenek. Aku jadi rindu belaiannya. Dulu sebelum kepergiannya, dia yang mengasuhku selama Ayah dan Ibu sibuk bekerja di luar kota. Sekarang aku sendiri hanya ada bibi di rumah yang membuka setiap pagiku dengan nasi goreng. Lama aku tak mendengar kabar Ayah, juga Ibu. Kuraih ponsel nokiaku yang tergelatak di atas meja makan. Kucari nama Ayah dari deretan contact di ponselku. Aku ragu untuk menghubunginya, aku takut mengganggu pekerjaan Ayah. Jika kuceritakan hal ini pasti membebani pikirannya nanti. Cukuplah dia tahu kabar baikku saja, tak perlu risauku karena aku tak mau kembali membebani mereka. Aku beranjak dari dudukku. Melangkah keluar menuju rumah Twita.  
“Ya Rabb. Berkahi perjalananku hari ini. Aku tahu hari ini adalah perjalanan yang amat panjang bagiku. Semoga perjuanganku tak sia-sia. Aku hanya butuh uluran tangan-Mu.” Aku berdoa dalam hati.
Setibanya di rumah Twita. Sebenarnya aku hendak memintanya untuk menemaniku ke kantor diknas. Tapi jika melihat dandanannya sepertinya dia ingin keluar untuk mengikuti audisi.
 “Aku mau mangajakmu jalan-jalan ke suatu tempat, tapi melihat gayamu kayaknya mau kondangan ya?” Jawabku sedikit melucu, dia tak suka pergi kondangan. padahal aku tahu siang ini dia akan  mengikuti audisi menyanyi untuk pertama kalinya, dari matanya aku menangkap sebuah harapan besar bagi dia untuk menjadi seorang penyanyi.
“Oke, tapi temani aku dulu ikut audisi, setelah itu kita jalan-jalan. Memangnya mau kemana?”
Aku tak menjawab. Aku tahu dia pasti penasaran. Segera aku menyuruhnya naik ke motor. Di perjalanan dia mendesakku untuk memberitahu tempat yang hendak kita kunjungi nanti. Sepertinya dia tahu isi kepalaku. Dia memang cocok jadi psikolog. Instingnya selalu tepat. Padahal aku belum memberitahu rencanaku untuk pergi ke kantor dinas hari ini. Tiba-tiba dia menyuruhku berhenti dan turun dari motor. Dia mengganti posisiku di depan lalu menyuruhku duduk di belakang. Aku heran melihat tingkahnya yang tiba-tiba aneh. memutar arah 180 derajat. Dia tak menggubrisku. Dengan gesit ditancapnya gas hingga motor melaju cepat. Aku tak tahu apa yang hendak dia lakukakan padaku. Yang pasti sangat membuatku aneh dengan tingkahnya yang dadakan. Setibanya di halaman gedung bertingkat, pekarangan yang indah disekilingi bunga. Di pojok kiri terdapat tulisan yang besar, Dinas Pendidikan Kota Jambi. Aku tergeragap. Aku kembali memutar kepalaku 360 derajat ke arah Twita. Aku tersenyum melihat wajahnya yang anggun. Tuhan, terimah kasih atas bidadari yang telah kau turunkan untukku, kurasakan tangan-Mu mengenggam jemariku.

“Lalu gimana dengan audisi?” tanyaku sedikit lirih. 

“Audisi bisa kapan-kapan aja, yang penting sekarang adalah SKHU-mu. Masuklah cepat ke dalam, kita hampir telat. Waktu kita tinggal sedikit, sebentar lagi mereka akan menutup kantor diknas” ujar Twita dengan mendorongku ke dalam.
Aku membalikkan badan dan melangkah memeluknya.
“Syukron, Ta. Entah apa yang terjadi jika kau tak ada di sampingku” air mataku kembali hadir.
“Itulah Sahabat, selalu ada dalam suka maupun duka.” Tutur lembutnya begitu mendamaikan hatiku. Dia mempersembahkan senyum termanisnya. Tangannya kembali menyeka pipiku, menyapu sedihku saat itu juga. Tuhan, dia begitu baik. Tak cukup membalas kebaikannya dengan materi. Kerelaannya melepas audisi pertama patut diberi penghargaan. Dia lebih memilihi pentingnya diriku, padahal ia begitu menantikan audisi menyanyi. Pusatkan mutiara-Mu di hatinya. Aku melangkah dengan penuh harapan. Aku harus menaiki anak tangga untuk  bertemu langsung dengan pegawai yang menangani SKHUN SMP. Semoga mereka ada saat aku butuh. Saat tiba, tanpa basa-basi aku langsung ke topik permasalahan. Awalnya mereka bilang bisa, tapi ujung-ujungnya mereka tak mendapatkan berkasnya. Aku melangkah mundur lalu menghela nafas. Kusapu dadaku sembari memejamkan mata. Baru saja kurasakan damainya hatiku, kini kembali tercabik-cabik.
“Jadi apa yang harus kami lakukan sekarang, Pak? Kami mohon bantuan Bapak, tanpa berkas itu dia tidak akan mengikuti ujian. Apa Bapak rela menelantarkan generasi bangsa?” Suara twita terdengar  dari balik pintu.
“Baiklah, kami usahakan menemukan berkasnya.” Jawab lelaki berumur yang duduk di hadapanku.
***
Waktu terus berjalan, Sepekan sudah aku menunggu jawaban. hari ini adalah terakhir aku mengumpulkan berkasku. Tapi sepertinya tak ada tanda-tanda berkas itu ada. Bahkan pihak sekolahku dulu mengatakan bahwa berkas itu tidak bisa ditemukan lagi. Di sepertiga malam aku sengaja membangunkan diri untuk sholat malam. Bersujud di hadapan-Nya. Membaca Al-Qura’an agar kedamaian bersemayam di hatiku. Rasanya tak ada tempat curhat selain di atas sajadah-Nya untuk kutumpahkan segala risauku, lelahku, perihku. Kupasrahkan segalanya pada Sang Ilahi. Inilah takdir hidup yang harus kujalani meski pahit. Aku yakin Engkau sediakan surga jika aku mampu menaklukkan ombak-Mu.
 Sepulang dari sekolah,  aku menemukan amplop berwarna cokelat, di depannya tertulis namaku. Akupun penasaran dan membuka isi amplop tersebut. Tertera Surat keterangan hasil ujian nasional dari dinas pendidikan nasional. Seketika aku bersujud syukur. Tak terkira nikmat yang Allah berikan padaku saat ini. Tapi aku masih bingung dengan kehadiran berkas berharga ini. Bukankah berkasnya telah hilang? Allah Maha Mendengar dan tidak ada yang tidak mungkin baginya. Kurasakan tangan-tangan mereka meraih tanganku, menarikku kembali ke atas. Mereka adalah Tangan-tangan Tuhan. Tangan yang selalu mendoakanku ialah Ayah dan Ibu. Tangan yang setia menggenggam erat tanganku, ialah sabahatku. Tangan yang tanpa sidik jari adalah tangan para bidadari dan pangeran yang Kau turunkan untukku. Merakalah tangan-tangan Tuhan yang selalu berbuat baik.




About Sarni Kurniati

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas euismod diam at commodo sagittis. Nam id molestie velit. Nunc id nisl tristique, dapibus tellus quis, dictum metus. Pellentesque id imperdiet est.

No comments:

Post a Comment


Krim Pesan

Name

Email *

Message *

Translate