Catatan Harian Sakura

Karena dengan menulis, segala bentuk kebaikan tidak akan berhenti di depan matamu
Follow Me

Cerpen (Nggak) Kece



By  Sarni Kurniati     12/27/2011 06:04:00 AM    Labels: 

Gelombang Cinta
Oleh Sarni Kurniati

Senja telah berakhir bulan pun bergeser menggantikan peran mentari. Aku lelah setelah seharian menggauli rumus fisika. Kurebahkan tubuhku ke kasur empuk dan kumulai merayap dalam mimpi, mencari sosok yang setia hadir dalam alam bawah sadarku akhir pekan ini. Sosok pemuda yang kutemui sepekan lalu. Saat tangan kami beriringan mengambil buku yang sama, di detik itu pula aku menatap lekat matanya seolah tak memberi peluang mataku berkedip. Dia laksana pemanah yang telah sukses memanah hatiku melalui tatapan mata elang miliknya. Tatapannya begitu dekat dengan alat optik-ku. Kurasakan adanya getaran gelombang yang merambat ke hatiku dengan kecepatan penuh, benarkah ini yang dinamakan gelombang cinta? Ah, aku terlalu dini menyimpulkan hal ini.
Sinar mentari kembali memancarkan cahayanya hingga menerangi seluruh belahan bumi. Burung-burung berkicau dengan riangnya. Sahutan kokok ayam membangunkan aku dari mimpiku. Bangun untuk memulai peperangan setelah sepekan aku telah mempersiapkan segala keperluanku. Berperang tanpa senjata api, yang kupunya hanyalah tekad dan ilmu, dan aku siap bertempur di medan perang. Mengadu kecepatan  berpikir dengan beberapa siswa yang diutus dari sekolah masing-masing. Kulangkahkan kaki dengan membaca basmalah, semoga hari ini berjalan sesuai harapanku menjadi salah satu nominasi tiga besar dalam olimpiade fisika. Sehingga aku pulang membawa kemenangan untuk semuanya, orangtuaku, sekolahku, dan sahabat-sahabatku. 
Aku tiba di kampus Universitas Jambi, bersama guru yang akan mendampingiku selama perlombaan. Seluruh peserta dikumpulkan di Aula untuk membuka  perlombaan olimpiade fisika yang diawali dengan kata sambutan. Lalu kami digiring ke ruangan khusus untuk peserta lomba. Kuperhatikan satu persatu peserta, mataku bertumpu pada satu objek. Dia salah satu peserta, dan sepertinya wajahnya tak asing lagi bagiku. Dia sempat menoleh ke arahku yang berjarak dua meja dari tempatnya. Tatapannya sangat mirip dengan tatapan mata elang pemuda yang kujumpai di Gramedia pekan lalu.  Ataukah dia pemuda pemilik mata elang itu? aku mulai bingung dibuatnya, kehadirannya sempat menggoyahkan keseimbanganku. Kucoba mengalihkan pikiranku untuk tetap pada titik fokus dengan apa yang kukerjakan. Aku melirik jam tanganku yang menunjukkan waktu tersisa lima menit lagi. Aku bergegas menyelasaikan lembar jawabanku.
Usai sudah perjuanganku, waktunya aku menunggu hasil dari pertempuranku di medan perang, dan apapun itu aku akan menerimanya dengan lapang dada. Kurasakan peluh yang menetes di keningku, degup jantung tak menentu, saling memburu ditiap detaknya. Aku berkomat-kamit dalam hati, kugenggam erat tanganku agar ketika harapan itu tidaklah terwujud, tanganku masih tergenggam erat olehku. Semakin memburu detak jantungku ketika bunyi microfon berselancar di telingaku. Nyaris aku tak percaya. Sebuah keyakinan dan optimisme telah melahirkan sebuah kebanggaan bagi sekolahku, Madrasah Aliyah Negeri Model Jambi, terkhusus diriku sendiri.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa usaha yang maksimal akan melahirkan hasil yang maksimal pula. Aku tak pernah menyangka jika namaku termasuk dalam deretan tiga nominasi yang mendapat penghargaan. Kulihat guruku dengan wajahnya yang sumringah. Aku berjalan dengan senyum merekah bak bunga sakura yang mekar di musim semi. Hati dipenuhi kemenangan menerima piala pertama yang kupersembahkan untuk sekolahku, orangtuaku, dan sahabatku. Kulihat pemuda itu yang telah lebih dahulu mengambil posisi di mimbar untuk menerima penghargaan. Perkiraanku tidak salah lagi, dialah pemilik mata elang itu. Aku berdiri di antara mereka, menggenggam piala dan kami sempat berfoto ria memamerkan piala. Samar-samar kudengar suara yang memberiku ucapan selamat. Aku menoleh ke arah suara itu. Dia tersenyum sembari menodorkan tangannya untuk kujamah. Kubalas dengan senyuman juga kujabat hangat  jemarinya. 
"Selamat juga, Wegi. Kita berhasil berdiri di sini." 
Aku mengetahui namanya dari kartu peserta yang menggantung di lehernya. Sapaan pertama yang membawa hubungan kami menjadi cukup dekat. Dua hari setelah pengumuman lomba, kembali aku berjumpa dengannya di Gramedia. Tempat yang biasa menjadi tongkronganku setiap hari minggu, juga dia. Sebenarnya bukan hanya sekali aku melihatnya nangkring di sini, karenanya aku berani mengatakan ini juga tempat tongkrongannya. Diam-diam aku memperhatikannya dari kejauhan, ternyata dia begitu manis juga jika terus memandangnya. Dua bola matanya yang memancarkan sinar polikromatik yang dibingkai dengan alis hitam membuatku seolah tertarik oleh gaya magnetik hingga menyeretku masuk ke dalam medan magnet.  Tatapannya membuatku terpesona saat dia melangkah mendekatiku tanpa aku sadari. 
"Hey, Ela. Kamu baca bukunya terbalik." Tegurnya sembari melambaikan tangannya di depan mataku lalu mendaratkan pantatnya di samping tempatku duduk.
Aku gelagapan hendak menjawab apa. Pasti wajahku sekarang merah keunguan, rasanya ingin kulipat wajahku dan kuselipkan ke dalam lembar buku, bukan, tapi ke dalam sepatu agar dia tak dapat menebak tingkahku yang sedari tadi memperhatikannya. Dia hanya tersenyum melihatku yang salah tingkah. Suasana sempat hening, aku hanya duduk terpaku di sampingnya, masih dengan buku yang terbalik dan kesibukanku mengotak-atik handphone dengan maksud agar aku tak kelihatan gerogi di sampingnya. Tiba-tiba dia mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya yang di balut biru.
"Aku ingin mengenalmu lebih dekat," tuturnya sembari menodorkan kartu namanya lalu pergi meninggalkanku. 
Aku mengangguk malu. Kuperhatikan langkah kakinya hingga dia menghilang dari pelupuk mataku. Selain cerdas dan tampan, ternyata dia pemuda yang santun dan ramah. Pasti dia menjadi idola di sekolahnya.
Akupun ingin mengenalmu lebih dekat, gumamku dalam hati.
***
Cinta itu tumbuh merekah karena adanya kebersamaan. Bak magnet yang memiliki kutub berlawanan akan selalu tarik-menarik. Seperti hubunganku dengannya yang semakin dekat, tapi belum ada pengakuan darinya. Tak mungkin jika aku yang memulai duluan. Aku selalu menunggu kata cinta itu terucap dari bibirnya, tapi entahlah sikapnya yang tiba-tiba mengacuhkanku seolah memberiku gaya sentrifugal untuk keluar dari lingkaran hatinya. Sejak ada kata “dia” yang hadir di tengah hubungan kami.  
“Ela, aku ingin kamu yang pertama mengetahui perasaanku. Sudah lama aku memendamnya, dan aku ingin esoklah waktu yang tepat untuk mengungkapkan rasa cintaku terhadapnya.” Tutur Wegi saat kami duduk di sebuah pondok makan menyantap makan siang.
Ungkapannya bak petir tanpa hujan seketika menyambar tubuhku. Kurasakan adanya arus listrik mengaliri darahku hingga membuatnya beku. Remuk redam jantungku. Aku hanya mampu mencintainya dalam hati. Biarlah kusimpan saja bongkahan rasa ini, kan kuluapkan pada laut yang biru, biar laut hanyutkan rasaku, biar gelombangnya menghantam ragaku hingga terkikis segala rasaku untuknya.
Getaran gelombang cinta hanya bermuara di dasar hatiku, tidak dengan hatinya. Lebih tepat dikatakan gelombang cinta yang tak terbalaskan. Kini aku menyadari bahwa segala harapan hanya Milik-Nya. Termasuk harapanku dicintai olehnya.  Aku akan bahagia melihat dia bersamanya meski tak kuasa menahan perih yang begitu mengakar hingga dasar hatiku.
 Desiran angin malam takkan menepis kesepian. Gerhana Bulan begitu megahnya menghiasi cakrawala yang gelap ditemani dengan seribu gugusan bintang. Bulan hanya tertawa menyaksikanku memeluk lutut tanpa dipeluk. Seperti malam-malam kemarin dengan kesunyiannya, sejak tak ada canda dan tawa darinya menghiasi inbox telphon selulerku. Aku percaya gelombang cinta itu akan hadir nanti, ketika Tuhan mengizinkan gelombang itu berjalan mencari medan cinta yang sesungguhnya.

About Sarni Kurniati

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas euismod diam at commodo sagittis. Nam id molestie velit. Nunc id nisl tristique, dapibus tellus quis, dictum metus. Pellentesque id imperdiet est.

2 comments:

  1. keren... tapai di akhir cerita ada katatapi dan Entahlah yang sama2 di awali huruf besar membuat rancu...*mencoba komentar

    ReplyDelete
  2. Thanks mb' comentnya. hehe, EYD nya emng lum edit sempurna mb'.., Aku selalu menunggu kata cinta itu terucap dari bibirnya. Tapi, entahlah...

    ReplyDelete


Krim Pesan

Name

Email *

Message *

Translate