Catatan Harian Sakura

Karena dengan menulis, segala bentuk kebaikan tidak akan berhenti di depan matamu
Follow Me

Lose The Battle But Win The War



By  Sarni Kurniati     2/11/2012 05:17:00 PM    Labels: 



Wajah menakutkan itu sudah stan by di depan pagar. Kalau aku masuk otomatis akan kejaring sama guru terkiler itu, tapi jika tidak sangat disayangkan karena hari ini ada pelajaran matematika. Kuputuskan untuk melangkah. Dengan lankah gontai, santai tanpa dosa aku menyalami tangannya. Sejurus ujung jari telunjuknya bergerak menunjuk sepatuku.
“Apes, kena hukum perdana deh,” aku membatin.  
Gara-gara  memakai sepatu tak bertali aku harus lari keliling lapangan dengan kaki ayam, skor jump, dan berlari mencari guru piket hari ini. Adalah hal yang sangat memalukan sepanjang sejarah pendidikanku. Aku dan enam teman sekelasku yang senasip denganku sibuk mencari guru piket yang sedang mengajar di kelas. Entah di kelas mana, membuat kami harus menjelajahi tiap kelas di sekolah-ku. Kebetulan hari ini yang piket adalah guru bahasa inggris, saat berhadapan dengannya kami diharuskan untuk memberikan alasan dengan bahasa asing ini. Bahasa inggris adalah makhluk asing yang sangat aku dislike, lebih baik aku mengerjakan seratus soal matematika.
“Why didn’t you memakai shoes bertali?” Bola matanya mengarah ke wajahku, tentu saja pertanyaan itu ditujukan padaku.
“I’m sorry, I don’t have shoes.” Jawabku patah-patah. Maklum aku sangat minim mengenai vocab.
Dia hanya membelalakkan matanya, lalu menggerakkan ujung keningnya yang mengisyaratkan kepada kami untuk keluar ruangan setelah tangannya menari di atas kertas berlabel izin masuk. Aku keluar dengan menghembuskan nafas  lega. Tak sampai di sini apesku hari ini. Baru saja kaki ini menginjak ubin kelasku, belum juga aku memakai sepatu. aku dipanggil menghadap ke ruangan guru pendidikan kewarganegaraan. Ah, rasanya aku tak punya salah dengan gurunya. Aduh, aku punya salah apa lagi sih? Desuhku dalam hati.
Aku berjalan dengan gaya  kaki yang nyeker kayak ayam yang kehilangan kaos kaki. Kuharap kabar baik yang kudengar. Aku melangkah dengan pede seolah tak ada yang salah dengan penampilanku, toh, memang tak ada yang salah. Aku tiba di depan pintu ruangan guru lalu mengetuk pintunya. Dari dalam kudengar suara bass guru yang mempersilahkan aku masuk dan segera aku mendaratkan pantatku di kursi yang diletakkan tepat di depan mejanya, tentunya setelah dia menyuruhku duduk.
Dia menyodorkan kertas pamflet berwarna hijau yang bertuliskan “Lomba Menulis Artikel Bela Negara”
Aku menerawang isi tiap kalimat di kertas itu. Masih rancu juga pikirku. Ya iyalah, baru duduk tiba-tiba disodorkan untuk membaca isi kertas itu.
“Kamu bisa dak nulis artikel duapuluh halaman dalam waktu satu minggu?”
“Duapuluh halaman, Pak?” jawabku sambil mengernyitkan kening.
Aku sempat berpikir panjang kali lebar mempertimbangkan hal ini. Mengingat jadwal ujian tinggal dua minggu lagi. Tapi jika kutolak kesempatan tak akan datang untuk kedua kalinya. Bukankah ini rezeki untukku setelah keliling lapangan? Tidak baik jika aku menolaknya. Jalani saja dulu, masalah menang atau kalah urusan belakang. Setidaknya menambah wawasan dan pengalamanku dalam dunia literasi.
“Iya, Pak, akan saya usahakan.” Lanjutku ragu-ragu.
“Besok lusa kita akan mengadakan seleksi untuk memilih satu naskah terbaik untuk dikirim ke panitia. Jadi usahakan tulisanmu lebih baik dari yang lain, karena ada 26 naskah yang akan kamu sisihkan.” Ungkapnya lalu mempersilahkan aku kembali ke kelas.
Aku melangkah keluar menuju kelas. Dalam setiap langkah kucoba untuk meyakinkan hati bahwa aku bisa menghasilkan karya dalam waktu satu minggu. Bagiku ini adalah tantangan kerana selama ini aku hanya mengikuti lomba menulis cerpen dan puisi di dunia maya. Sedikitpun tak pernah terbersit di benakku untuk mencoba menulis artikel. Tapi hari ini aku dijatuhkan tantangan menulis artikel dan harus segera bertindak.
***
Aku jadi mengingat tulisan salah satu penulis produktif yang terkenal di dunia maya.
Sang juara adalah seorang pemimpi sekaligus pekerja. Ia bukan sang pengkhayal yang tak menjejakkan kaki di bumi. Bukan pula sang pekerja tanpa asa. Ia adalah seorang petarung penuh cita di medan kehidupan. Sang juara adalah pemilik imajinasi yang mampu menembus dimensi waktu sehingga mampu bermimpi tentang kehidupan pascakematian.
Bukan hanya dari tulisannya, aku pun terinspirasi dari sepenggal kalimat yang masih terekam dalam memori otakku  yang kubaca dari buku Notes From Qatar yang mengungkap Lose the battle but win the war. Kalah pada peperangan kecil tetapi memenangkan peperangan besar. Anggap saja hari ini aku dihadapkan dengan perang kecil. Apapun hasilnya nanti, menang atau kalah itulah hasil akhir dari cucuran keringatku sendiri.
Aku bangga memiliki diriku…
       

End..
Jambi, November 2011.

About Sarni Kurniati

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas euismod diam at commodo sagittis. Nam id molestie velit. Nunc id nisl tristique, dapibus tellus quis, dictum metus. Pellentesque id imperdiet est.

No comments:

Post a Comment


Krim Pesan

Name

Email *

Message *

Translate