Catatan Harian Sakura

Karena dengan menulis, segala bentuk kebaikan tidak akan berhenti di depan matamu
Follow Me

SALAM KEMISKINAN UNTUK TUAN PRESIDEN #DRAMATEATER



By  Sarni Kurniati     3/07/2012 08:00:00 PM    Labels: 

 SALAM KEMISKINAN UNTUK TUAN PRESIDEN

Sore hari di pelataran gubuk kardus mereka. Seorang kontraktor datang untuk melihat kawasan  mereka yang akan dibangun gedung.
Kontraktor : (bertolak pinggang) Letak yang strategis untuk membangun gedung pencakar langit di lahan ini. Esok, ketika fajar telah menyongsong pagi, semua gubuk itu akan rata dengan tanah.
Rakyat I: (datang menghampiri kontraktor) Wahai kontraktor terhormat, apa yang hendak kau lakukan di sini?
Kontraktor  : Akan kubangun gedung megah di atas tanah ini.
Rakyat I      :Masih adakah hati nurani dalam dadamu? Lihatlah sekelilingmu, mereka tak punya tempat tinggal lagi. Jika kalian merobohkan gubuk kami, kemana lagi kami bersandar?
Kontraktor :Oh, ternyata ada yang bersimpuh dihadapanku, memohon untuk menghentikan proyek ini. Tapi, Maaf. Sudah terlambat, tak ada yang mampu menghalangi jalanku. ( menatap sinis rakyat)
Rakyat I      :Kumohon, tidakkah tergerak sedikitpun dihatimu melihat kami yang tak berdaya   ini. Kami masih ingin hidup, masiiiiih ingiin hiduuuppp.
Kontraktor : Ini adalah daerah kekuasaanku, terserah aku hendak mengoboknya jadi apa.
Rakyat II : Kami berhak atas kehidupan yang layak, seperti yang telah di atur dalam undang-undang.
Kontraktor :Lantas? Kalian akan mengadu kepada yang membuat undang-undang? Silahkan saja, jika kau punya uang untuk membayar mereka meruntuhkan niatku. Justru aku yang akan menuntutmu karena telah hidup disini tanpa ada surat izin dari pemerintah. Kau memang layak hidup, tapi hidup dalam jeruji besi. (tertawa sinis)
Rakyat I : Sungguh hatimu terselimuti darah hitam. Serigala berkepala manusia…
Kontraktor : Apa katamu? Enyah kalian dari hadapanku…
Rakyat II : Kau yang seharusnya enyah dari hadapan kami.


Dua  rakyat jelata sedang duduk di bawah terik mentari. Tangan mereka mengelus perut yang keroncongan. Sudah seminggu perut mereka tak mencerna makanan.  Mereka hanya rakyat jelata. Gubuk kardus mereka  digusur oleh kontraktor yang rakus membangun gedung pencakar langit di setiap lahan subur.
Di depan sebuah restoran padang.
Rakyat  II : Andai  aku Presiden, kan kubeli semua restoran dan kukumpulkan anak jalanan untuk menyantap hot dog, pizza, kfc,  setiap hari.  Agar  tak ada lagi perut yang meraung kesakitan. (Tersenyum, melangkah ke depan)
Rakyat I : Jangan terlalu tinggi mendaki, kau akan mati jika terjatuh. Kita hanya rakyat jelata yang tak punya apa-apa. Bermimpi pun kita harus berjuang  untuk bisa tidur.
Rakyat II : Bukankah semua berawal dari mimpi? Thomas alfa Edison yang menemukan listrik untuk menerangi manusia  saja melalui mimpi, begitu pun dengan Einstein. Bahkan mungkin presiden juga pernah jelata seperti kita sebelum menjadi nomor satu di negeri ini.
Rakyat I : Memang  semua berawal dari mimpi. Tapi lihat dirimu, diri kita. Yang tak punya secuil harta hanya badan yang kita bawa. Apa yang bisa kita lakukan? Mengemis? Adalah hal yang sangat hina untuk dilakukan.
Rakyat II : Dalam keadaan seperti ini,  kau  masih sempat mengatakan ini pekerjaan hina? Sementara perut telah meronta  kesakitan. (Memegang perut)
Rakyat I : Masih lebih hina para koruptor yang pelan-pelan menggerogoti tubuh rakyat. Seenak jidat  mengorek dan mengocok perut ibu pertiwi. 
Rakyat II : Tuhan bersama kita…  akan tiba saatnya  mereka belutut pada bumi (Pergi mencari kertas dan pulpen)
Rakyat I : Serigala tetaplah serigala. Mustahil mereka selembut ulat sutera. ( Menatap sinis kepergian saudaranya lalu memalingkan pandangan ke penonton)
Tak lama kemudian Rakyat II datang membawa sesuatu, hendak menunjukkan kepada saudaranya.
Rakyat II : (Masuk membawa kertas dan pulpen di tangan kanannya)
Rakyat I : Dimana kau mencuri barang itu?
Rakyat II : Hanya selembar kertas yang kutemukan di tumpukan sampah, lantas kau memvonisku mencuri? Tak ada dalam pasal hukuman mati bagi mencuri selmbar kertas.
Rakyat I : Kau bilang selembar? Setengah lembar pun kau bisa di jatuhi hukuman penjara bertahun-tahun karena tindak Kriminal. Tidak kah kau menyadarinya?  Seorang Ayah terpaksa mencuri  demi membeli susu anaknya di penjara bertahun-tahun, sementara para pejabat yang terlindungi dari topeng kepalsuan seenaknya merampas hak-hak rakyat yang tak berdaya, tanpa ada perlakuan hukum.  Koruptor semakin kekar sementara rakyat kian melarat.      Dimana letak keadilanmu, Tuhan? (Menatap Penonton)
Rakyat II : Yah, Hukuman itu dibuat untuk para cecurut miskin seperti kita. Sementara bagi penguasa yang titlenya berjejer di belakang nama hanya sekali menggelengkan kepala dan hukum tunduk kepadanya. Ironis, Indonesia sangat kotor bertingkah, tapi cerdas menanggalkan kejujuran di atas segalanya.
Rakyat I :  Oh...pemimpin Indonesia,  dimana engkau menyembunyikan garuda kami? (Suara meninggi)
Rakyat II : Akan kulayangkan salam kemiskinan untuk tuan presiden, semoga ia menjawab tanya kita. Dimana mereka menyembunyikan garuda?
Rakyat I : Mereka sama saja dengan serigala bertubuh manusia.
***
(poery)
Salam Kemiskinan Untuk Tuan Presiden
Melihat geliat para pejabatmu ya tuan Presiden
betapa sikap mereka seperti dewa
yang berdiri di atas semboyan-semboyan yang tak bisa ditawar
Engkau yang termabuk, lupa diri dan memainkan senjata yang telah terlepas
Lalu menembak lautan, hutan-hutan, dan lahan-lahan subur
Mengorek dan mengocok perut ibu pertiwi yng semakin terkulai
Ah, engkau, betapa rakus dan durjananya
rakyat mencatat dalam lembaran hitam pekat dengan darah yang melekat kuat
Kan kusinggahi istanamu ya tuan Presiden
kan kubawakan sebakul buah
yang kupikul lewati trotoar tak ramah
dengan keringat yang siap diperas
sebab terik matahari begitu menyengat
Di tengah protes kaum terpelajar
gerombolan berseragam muncul dari pelataran istanamu
bak penyamun terlatih memperkosa diriku dengan rakusnya
sebakul buah ini tumpah ruah
Aku bukan demontrans yang memprotes kebijaksanaan
namun segerombolan srigala lapar menatapku curiga
“Di manakah keadilan?” tanyaku pada mereka
Aku tersungkur hilang arah
gelap baik buruk dosa
silih berganti mengisi samarku
yang kudengar hanya suara-suara penuh belatung
Tercampakku di tepi istanamu ya tuan Presiden
jiwa ini tersadar mencari pijakan
rohku mengembara mencari Tuhan

tuan Presiden aku sampaikan salam kemiskinan
akan kuajak kerabatku untuk berburu
mencari garudaku yang hilang
di manakah kau sembunyikan tuan Presiden?
Tuan Presiden yang saya hormati.
Dengan segala kerendahan hati
Kusampaikan pesan rahasia hati untuk tuan
“Bersegera dirilah kembali kelaut
sebelum matahari merasa menyesal
 terbit dari arah barat dan terbenam di ufuk timur.


About Sarni Kurniati

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas euismod diam at commodo sagittis. Nam id molestie velit. Nunc id nisl tristique, dapibus tellus quis, dictum metus. Pellentesque id imperdiet est.

No comments:

Post a Comment


Krim Pesan

Name

Email *

Message *

Translate