Catatan Harian Sakura

Karena dengan menulis, segala bentuk kebaikan tidak akan berhenti di depan matamu
Follow Me

My note



By  Sarni Kurniati     11/28/2012 05:31:00 PM    Labels: 


not title

Subuh.
Aku dengan atribut yang memalukan menempel di batang tubuhku, menjajaki waktu subuh menuju kampus. Kulirik arlogi, lima menit lagi lagi jam 05.00. Mustahil tiba dalam waktu lima menit, sementara jarak ke kampus ditempuh selama 20 menit. Ingin rasanya terbang tapi aku tak memiliki sayap. Derita anak manusia.
Almamater  cokelat itu telah berdiri tegap di depan gerbang kampus. Dengan wajah polos aku melangkah pelan agak cepat namun santai, melewati senior yang  memerhatikan aku sejak turun dari motor. 
“Cepat, Dek. Udah jam berapa nih,” serunya.
Aku menoleh tepat mata kami bertemu. Matanya mengisyaratkan sesuatu, tangannya bergerak menuju arloginya, sambil jari telunjuknya mengetuk cermin arloginya.
Aku mengangguk pelan dan tersenyum. Lalu berlalu dengan cepat menuju lapangan basket. Aku duduk di barisan yang terlambat, paling belakang. Sementara Senior berkeliaran mencari mangsa untuk dijadikan terdakwa di depan sana. Satu persatu mahasiswa diperiksa.
“Terong kamu mana, Dek?” Tanya salah satu senior cewek.
Aku menunjuk diriku.
“Iya, kamu. Siapa lagi? Monyet?” Gerutuknya.    
Matanya yang mirip burung hantu membelalak menatapku. Aku segera mencari terong di antara atribut lainnya yang bergelantungan di leherku.
“Tadi, a..ada, Kak.” Jawabku gugup.
Matanya semakin ingin keluar menerkamku, ketika dia menyuruhku untuk berdiri ke depan barisan dengan menghadap ribuan mahasiswa.
Senior pemilik mata burung hantu itu begitu mencercaku di depan. Mahasiswa baru yang nggak tahu aturan. Begitulah kalimat yang keluar dari bibir mungilnya, membuat semua mata tertuju padaku. Aku tidak menunduk. kembali kutatap mereka. Bukan menantang, namun tidak ingin dikatakan pecundang ketika berhadapan dengan mereka.
Tiba-tiba dari penjuru kiriku, terdengar suara yang menyelematkanku dari patuk burung hantu.
“Ini terongnya, kan?” tanyanya sembari menunjukkan terong yang terikat tali putih.
Aku mengangguk pelan. Tersenyum dan menghela napas, ini dia pangeran yang menolong sang putri dari terkaman burung hantu.
Aku kembali ke barisanku.
Ishoma.
Raja siang mulai bertengger di langit biru, mengintip dari balik awan, sengatan teriknya menguliti kulit kusamku. Perpeloncoan berakhir sejenak, dilanjutkan dengan ishoma-istirahat sholat dan makan. Kami digiring ke ruang aula yang di lengkapi lampu pelangi yang kerlap, dan luasnya seperti lapangan bola ini menjadi tempat aku berselonjor di lantai di antara deretan kursi berbaju putih.
Aku menghela napas. Melirik ke samping kanan dan kiri, depan dan belakang, sebagian mahasiswa baru mulai mengantri di toilet dan mushola, sementatra yang lain duduk santai dengan blackbary yang melingkar di tangannya. Aku segera melepaskan atribut nama cantik ku, arteri Hepatica propria. Nama cantik yang diwajibkan kepada mahasiswa baru jurusan kedokteran.
Tiba-tiba.
“Dek, atribut jangan dilepas.” Seru senior yang menyelematkanku dari terkaman burung hantu tadi pagi.
Aku tersenyum sembari kembali mengenakan atribut.
“Nggak Sholat, Dek?” Tanyanya sambil duduk di sampingku. 
Aku terdiam. Dia hanya mengangguk pelan sembari berlalu dari hadapanku.
***
Pemuda yang memiliki sepasang mata sipit, berkulit putih, dengan ditopang postur tubuh yang ideal. Dia adalah ketua ospek profesi kedokteran di kampusku tahun ini, dia juga termasuk mahasiswa yang memiliki IP tertinggi di fakultas ini. Sesuatu jika bisa mengenalnya lebih dekat, setidaknya aku bisa belajar banyak tentang dunia medis.  Sepertinya aku mengagumi sosoknya. Begitu kagumnya hingga dia hadir dalam mimpiku, bahkan mengusik kuliahku akhir-akhir ini. Hatiku dalam keadaan emergency saat ini. Lamunanku seketika buyar setelah menerima massage dari nomor yang tak kukenal.







       









About Sarni Kurniati

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas euismod diam at commodo sagittis. Nam id molestie velit. Nunc id nisl tristique, dapibus tellus quis, dictum metus. Pellentesque id imperdiet est.

No comments:

Post a Comment


Krim Pesan

Name

Email *

Message *

Translate

.

IBX5A8FCDBFEF8FC