Catatan Harian Sakura

Karena dengan menulis, segala bentuk kebaikan tidak akan berhenti di depan matamu
Follow Me

Takdir Gadis Bugis



By  Sarni Kurniati     8/29/2014 03:25:00 AM     

 

*       
Takdir Gadis Bugis

“Seorang pemuda datang melamarmu, Sarni.” Tuturnya pada gadis bugis belia yang duduk di sampingnya.
“Sarni masih ingin melanjutkan sekolah, Nek.” Aku menunduk.
“Nenek takut tidak bisa melihatmu…”
Seketika aku memeluk tubuhnya yang kian renta.
Jika kesabaran menjelma menjadi nyata, maka wujud nyatanya adalah Nenek. Kesabaran yang telah membawa nya hingga kemari. Dia sakit dan sakit yang ia rasakan bukanlah luka biasa. Luka yang setelah puluhan tahun belum juga mengering. Bahkan telah menggerogoti seluruh tubuhnya yang semakin kurus. Saat itu Ibu masih gadis, dan mereka membangun sebuah toko di desa terpencil yang terletak jauh dari kota Jambi. Masyarakat disana menyebutnya desa Simbur Naik. 
Desa Simbur Naik didirikan pada tahun 1957, oleh seorang petani bernama H. Kanna yang berasal dari Pulau Kijang, Indragiri Ilir, Riau, yang mengadakan kunjungan ke daerah Tanjung Jabung untuk mencari tanah persawahan dan perkebunan. Setelah sampai pada suatu sungai yang bermuara pada selat berhala, beliau menyusuri sungai tersebut. Melihat keadaan subur yang baik untuk persawahan maka beliau mendirikan pondok dan kemudian membuka hutan tersebut. Karena hutannya dialiri air pasang surut yang terkadang tawar dan terkadang asin maka keaadan tanahnya sangat subur untuk persawahan dan perkebunan.  Nama Simbur Naik terinspirasi oleh kejadian apabila terjadi air pasang, maka sungai tersebut bersimburlah ikan-ikan, oleh karena itu Desa tersebut diberi nama Simbur Naik.
Desa Simbur Naik adalah salah satu desa yang yang berada dalam wilayah Kecamatan Sabak Timur Kabupaten Tanjung Jabung Timur . Setelah nenek dan kakek hijrah dari Sulawesi Selatan, di atas bumi dan langit Simbur Naik lah aku dan ibu dilahirkan. Lalu mereka membuat usaha kecil dengan berjualan di rumah petak sederhana ini. Selain jualan sembako, kakek juga merintis bisnis tembakau yang dikirim dari Sulawesi Selatan ke desa. Karena itu kakek hilir mudik diantara kota tersebut. Kakek dikenal laki-laki yang pekerja keras, disaat kakek sedang mencari nafkah selalu ada yang setia menunggu kepulangannya di rumah sederhana ini, Nenek. Nenek pun tidak tinggal diam, dia mengelolah bahan-bahan tembakau yang didatangkan dari Sulawesi untuk menjadi tembakau. Selain itu, nenek juga membuka toko kecil-kecilan di rumah. Bertahun-tahun mereka berjuang dan akhirnya  mereka disebut-sebut keluarga pedagang yang berhasil. Lalu setelah ibu lahir, bibit berdagang itu tumbuh dalam diri ibu. Dari ketiga bersaudara, Ibu lah yang meneruskan usaha dagang yang dirintis oleh nenek sejak awal merantau ke desa. Hingga sekarang toko tersebut telah berubah menjadi agen untuk pedagang lainnya.
Ibu tidak bisa melanjutkan kuliah di jurusan ekonomi karena tidak ada perguruan tinggi di desa. Ditambah lagi tuntutan dari saudara laki-laki ibu, bahwa ibu hanya boleh sekolah sampai Aliyah, karena sekolah yang paling tinggi di desa adalah madrasah aliyah.
Akhirnya ibu menemukan takdirnya.
Ibu dijodohkan oleh pemuda dari dusun seberang.  Ibu menangis. Tak henti-hentinya ibu mengutuk keadaan ini. Sebagai gadis bugis, menikah muda adalah hal yang biasa. Setiap anak perempuan yang telah menginjak masa subur (baliqh) berarti sudah siap untuk menikah atau dinikahkan. Namun ibu tak berdaya, ingin lari dari takdir, namun kemana ia akan pergi? Semua keluarga telah datang memenuhi rumah. Sanak saudara hilir mudik menyiapkan resepsi pernikahan Ibu yang hanya menghitung hari.
Ibu begitu iri melihat teman-teman sekelasnya diterima di salah satu perguruan tinggi. Seharusnya ibu juga merasakan bahagia yang sama seperti mereka. Mempersiapkan segala hal untuk menginjak gedung mewah yang diimpikannya sejak sekolah dulu. Sayangnya ibu harus melewati tembok yang begitu tinggi, dan ibu tidak bisa melewatinya.   
Dia bisa melewatinya jika sebagai istri, bukan mahasiswa.
Inilah takdir yang harus Ibu jalani dengan hati yang lapang. Disetiap sujudnya ibu selalu memanjatkan doa, jika kelak ia memiliki anak perempuan maka ia akan menyekolahkan anaknya hingga cita-citanya tercapai.
Dan terlahirlah…
Aku, Sarni Kurniati Lajareng.
Sarni adalah gabungan dari nama Bapak dan Ibu, H. Sakaruddin dan Hj. Senni
Nama akhir adalah nama kakek. Sosok laki-laki tangguh yang tak pernah ada kata lelah dalam berjuang. Sosok yang juga menjadi luka dalam jiwa nenek.
Aku, nyaris seperti Ibu. Berulangkali mencoba dipinang, berulangkali pula mereka ditolak. bukan karena tidak mau, melainkan waktunya belum tepat. Dia begitu menjaga impianku, dan Bapak pun memperjuangkan cita-cita kami. 
Lantas, siapakah yang akan datang disaat waktu yang tepat? 
Ah, aku akan sabar menunggu. Siapapun kamu, Aku akan bahagia menyambutmu, dan akan kupersiapkan jamuan teristimewa untukmu...
***
“Memangnya berapa umurmu, Sar?” Tanya gadis berkerudung cokelat yang juga teman sekelasku.
“Empatbelas tahun, Lia.” Jawabku tanpa menoleh padanya.
“Lalu laki-laki yang melamarmu umurnya berapa? Ganteng nggak? Pekerjaannya apa?”
“Bukan masalah itu, tapi aku masih ingin tetap melanjutkan sekolahku, menggapai mimpiku menjadi seorang dokter, Kau tahu itu kan Lia?” Cetusku.
“Iya aku tahu, Sar. Lalu bagaimana dengan Nenek? Bukannya nenek sangat menginginkannya?”
Pertanyaan Lia kembali membuatku pesimis.
“Itu yang sedang aku pikirkan….”
Hening. Bahkan dia pun ikut memikirkan masalahku. Lia memang teman yang paling baik.
“Tapi aku yakin, Ibu pasti memihak padaku. Dia pasti ingin aku tetap sekolah,“ kucoba meyakinkan diriku. 
Nenek memang menginginkan aku segera menikah di usia masih sangat belia, dengan alasan nenek takut tidak bisa melihatku menikah. Saat aku telah menggelar bahagia karena lulus madrasah tsanawiyah, seorang pemuda datang melamarku. Aku mengenalnya. Orang-orang mengira kami memiliki hubungan spesial. Padahal tidak. Kami hanya saling mengenal lewat pembicaraan di telefon beberapa kali. Inilah yang membuatku resah. Disaat aku sibuk mengurus untuk melanjutkan sekolah di Jambi, orang-orang di desa pun sibuk menggelar omongan tentang lamaran itu. Ingin segera meninggalkan desa ini. Secepatnya….
“Maaf, Nak. Bukannya kami tidak menerima, tapi Sarni harus melanjutkan sekolahnya dulu.” Tutur Bapak pada pemuda yang duduk di hadapannya.
Aku sangat bahagia mendengarnya. Ibu dan Bapak memihak padaku, mereka memperjuangkan cita-cita kami. Tentu aku tidak akan mengecewakan mereka.
“Kau yakin ingin sekolah di luar desa, Nak?“ Ibu menghampiriku yang sedang menyusun baju ke dalam koper. Aku sungguh akan meninggalkan Simbur Naik, tanah kelahiranku. 
Aku terdiam. Baju yang terlipat rapi menjulang di hadapanku seketika roboh.
“Disini kan masih ada Madrasah Aliyah, setelah lulus dari Aliyah baru kau merantau ke luar desa untuk melanjutkan kuliah.” Ujar ibu sembari memungut baju yang tergeletak di lantai kamarku.
“Madrasah Aliyah disini tidak ada jurusan Ipa, Bu.” Aku menggapai tangan ibu yang menggenggam pakaianku.  
Tampak raut wajah Ibu yang sedih. Aku tahu ibu sangat khawatir melepas gadis sulungnya untuk merantau. Khawatir jika aku belum bisa mengatur jadwal makan.  Kalau aku tidak akan menghubunginya setelah aku menemukan teman baru, dan aku pergi berleha-leha ke mall. Masih banyak lagi yang memberatkan ibu melepas gadis sulungnya ini. Berulangkali ibu membujuk agar aku tetap sekolah di desa, namun impianku mengalahkan bujukan ibu. Kali pertama kami harus berpisah, mungkin untuk waktu yang lama. Bertahun-tahun.
Meski berat kaki ini mengayun langkahnya, namun aku harus tetap melangkah ke depan. Bukankah kalian telah memperjuangkan aku? Dan sekarang izinkan aku berjuang untuk kalian di ranah ilmu ini. Demi Ibu dan Bapak. Demi cita-cita kami. Demi tanah kelahiranku, Simbur Naik.
Aku benar-benar meninggalkan mereka, ibu, bapak, nenek, kakek, adikku, dan sahabatku, Lia. Aku juga Meninggalkan senja dan hujan, kalian tetaplah disini dan jaga mereka. Aku akan kembali….
***
“Kalau Kau pergi aku akan sangat kesepian….” Ujar sahabatku.
Aku memeluk tubuhnya yang ramping, mengelus sehelai kain yang menutupi kepalanya. Kami dekat sejak kecil. Selalu sebangku sejak seragam putih merah hingga putih biru.  Sudah seperti kakak dan adik. Dia lebih tua dua tahun dariku. Ibunya dan ibuku sangat akrab, mungkin itulah yang menyebabkan kami juga begitu dekat. Dia tinggal di belakang toko milik Ibu. Jadi, setiap pulang sekolah maka aku akan bertandang kerumahnya dulu sebelum tiba di toko. Dan ibu pasti akan memanggilku dengan suaranya yang lantang karena aku selalu lupa waktu jika sudah berada dirumah mungil itu. Dirumah mungil inilah aku merasakan keramaian, sungguh ramai. Lia adalah anak sulung dari kelima adiknya yang masih kecil. Beda dengan rumahku, kami hanya berlima, aku, ibu, bapak, nenek, dan adik. Lalu kakek? Kakek lebih memilih tinggal bersama istri ketiganya. Dan aku merasa tak ada siapapun di rumah.
“Masih ada hujan dan senja menemanimu, jadi kau tak perlu sedih, karena aku selalu ada dibaliknya.”
Terdengar isak tangis yang menyeruak. Ini kalipertama aku mendengar tangisnya, melihat sepasang bola matanya yang indah mengeluarkan air mata. 
“Jangan lupa hubungi aku ya, Sar. Apalagi setelah punya teman baru disana.” Kami saling melepas pelukan. Tangannya menyeka pipinya yang basah.
“Tapi kau harus janji untuk melanjutkan sekolah di Madrasah Aliyah. Kalau tidak, aku tidak akan menghubungimu.”
“Iya….” Jawabnya lesu sambil menunduk.
Lia hidup dengan keluarga yang sederhana. Dengan kondisi ekonomi yang cukup untuk kehidupan mereka, dan kelima adiknya. Meski ibu nya selalu mengatakan bahwa dia tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena keterbatasan biaya. Tapi aku selalu meyakinkan Lia bahwa jalan mimpi kami masih terbentang, tidak ada yang bisa menghalanginya kecuali jika kami berhenti melangkah dan takdir yang berbicara.
Dan ternyata Lia lebih dulu menemukan takdirnya, seperti ibuku. Takdirnya adalah menjadi seorang istri, saat kami masih duduk di bangku madrasah aliyah.
Senja dan hujan tak lagi sempurna bagiku. Bagaimana tidak, sahabatku telah lebih dulu menemukan takdirnya. Dan mungkin kami tidak lagi seperti dulu. Menunggu hujan agar bisa memotret pelangi atau menatap senja yang selalu menyisakan kisah tentang mimpi-mimpi kami.  
Entahlah, semoga Tuhan berpihak padaku. Semoga takdirku mewujudkan impian itu benar-benar terjadi.







About Sarni Kurniati

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas euismod diam at commodo sagittis. Nam id molestie velit. Nunc id nisl tristique, dapibus tellus quis, dictum metus. Pellentesque id imperdiet est.

No comments:

Post a Comment


Krim Pesan

Name

Email *

Message *

Translate

.

IBX5A8FCDBFEF8FC