Catatan Harian Sakura

Karena dengan menulis, segala bentuk kebaikan tidak akan berhenti di depan matamu
Follow Me

Caramu Mencintaiku, Ibu.



By  Sarni Kurniati     11/24/2014 06:52:00 AM    Labels: 


“You must know that there’s nothing higher, or stronger, or sounder, or more useful afterwards in life, than some good memory, expecially a memory from childhood, from the parental home.”
Dostoevsky’s, The Brother Karmazove.

Tidak ada yang lebih indah selain mengenang masa kecil. Suka atau duka yang pernah kita lalu, ia tetaplah kenangan indah. Masa kecil yang telah membawamu pada mentari masa depan.

Kita tidak bisa memilih masa kecil, tapi kita bisa memilih masa depan kita.

Aku dengan segala pernak-pernik masa kecilku, Gadis cengeng yang hobi sekali sakit. Dengan segala keterbatasan fisik, aku tidak ingin diam termangu melihat teman-temanku bermain. Aku tetap memilih aktif di sekolah, apalagi dalam kegiatan olahraga. Saat duduk di bangku Sekolah Dasar, aku pernah mendapatkan juara perlombaan baca puisi, tenis meja, catur, hapalan Sholat, volli. Semua kegiatan itu menyenangkan bagiku. Tapi saat hendak mengikuti lomba tingkat kecamatan, Ibu tidak pernah mengijinkan aku mengikuti kontingen. Aku merengek sambil sesenggukan dan ibu tetap kekeuh tidak memberi izin. Sejak itu lah, aku memilih diam dan murung. Aku merasa ibu tidak pernah mendukung segala kegiatanku. Aku sempat membenci Ibu. Tapi tidak lama, setelah aku tahu bahwa ibu melarangku mengikuti kegiatan diluar desa karena aku sakit. Iya, karena sakit yang kuderita. Kata ibu aku sering mengalami demam yang sangat tinggi bahkan sampai kejang-kejang. Ibu takut jika kejadian yang pernah hampir merenggut nyawaku kembali terjadi saat tidak di samping ibu. Aku mulai mengerti. Ibu mencintaiku, dan aku harus mengerti cara ia mencintaiku. Ibu, maafkan aku.

Bukan hanya itu, cara ibu mencintaiku sangat rumit. Rumit bagiku yang masih duduk di bangku SD. Ibu mulai membatasi dengan siapa aku berteman. Laki-laki atau perempuan? Rumahnya dimana? Orangtuanya suku apa? Dan pertanyaan lain yang sudah terlupakan. Ibu, tidak akan membiarkan aku bermain setelah aku melepas seragam putih merahku. Aku harus duduk di sampingnya, sambil merapal hapalan perkalian. Aku akan sesenggukan sambil merapal hapalan itu, karena melihat teman-temanku asyik bermain kelereng di depan toko kami. Aku juga sempat membenci ibu karena hal ini. Dunia anak-anak adalah wahana bermain bagiku, tapi tidak bagi ibu. Menurut dia, masa anak-anak adalah masa untuk belajar, waktu yang baik untuk dibekali ilmu, hingga dewasa tidak susah lagi mengajarinya. Dan inilah cara ibu mencintaiku, dan aku harus mengerti bagaimana cintanya padaku. Ibu, maafkan aku. 

Setelah membatasi waktu bermain. Ibu ingin aku membantunya di toko. Belajar berdagang dengan baik. Kuakui Ibu memang wanita karir yang bukan karena pendidikan formalnya, tapi karena kegigihannya menjalani bisnis di toko kami. Ibu sukses menjadikan toko kami sebagai agen bagi penjual lainnya. Aku kagum dengan Ibu. Tapi, karena inilah, semua waktu bermainku dipangkas. Bahkan terkadang aku  melarikan diri saat toko sedang ramai. Aku meninggalkan ibu dikerumuni pembeli. Seharusnya aku membantunya, tapi saat itu aku benar-benar masih anak-anak. Mungkin dari sini lah, ibu ingin memberitahukan sesuatu. Tentang kerja keras, tentang perjuangan, tentang bagaimana lelahnya mencari uang siang dan malam. Agar aku tidak seenaknya mengambil uang dari laci, agar aku tidak terlalu boros membelanjakan uang jajan dari Ibu. Inilah cara Ibu mencintaiku, dan aku harus mengerti  dalam omelannya ia mencintaiku. Ibu, Maafkan aku.  

Saat aku duduk di bangku madrasah tsanawiyah. Ibu tahu aku sedang beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Hingga ia harus mempertanyakan siapa teman dekatku? kali ini ibu memberikan banyak komentar ketika aku memilih untuk belajar kelompok di rumah teman, di rumah siapa? Temannya laki-laki atau perempuan? Emang tugasnya apa? kenapa tidak belajar kelompok di rumah saja? Dan aku hanya diam mendengar ribuan tanya dari ibu. Percuma menjawabnya, karena ibu tidak akan berhenti bertanya, kecuali aku tetap di rumah. Setiap aku pulang sekolah, ibu selalu memintaku untuk menemaninya di toko. Dan aku selalu beralasan ada tugas  belajar kelompok. Ibu mulai menangkap sinyal yang menandakan bahwa aku lebih memilih di luar ketimbang berada di samping Ibu. Ibu khawatir jika pergaulanku membawa dampak buruk. Aku tahu bagaimana khawatirnya sosok ibu yang baru saja melepas anak gadisnya bermain di luar sana. Aku harus memahami kekhawatiran ibu, karena inilah cara Ibu mencintaiku. Ibu, Maafkan aku.

Masa-masa madrasah tsanawiyah telah terlewati. Deti-detik menuju Ujian Nasional. Aku mulai membujuk ibu untuk mengizinkan aku melanjutkan sekolah di Kota. Dan tentu ibu tidak mengizinkan. Ibu hanya menjawab, kalau mau lanjutkan di Madrasah Aliyah saja, kalau ndak mau lebih baik ndak usah sekolah. Tapi aku tetap kekeuh akan melanjutkan sekolah di kota. Aku meminta bantuan bapak, tante, om, abang sepupu, untuk membujuk ibu. Aku mulai menabung sedikit demi sedikit untuk biaya ke kota tanpa sepengetahuan Ibu-tapi bapak tahu mengenai hal ini bahkan menambahkan tabunganku. Aku tahu bagaimana risaunya hati ibu terpisah dengan anak gadisnya. Tapi kali ini aku tidak bisa mengalah, bukankah mewujudkan cita-citaku juga termasuk membahagiakan ibu? Aku tidak bisa jika hanya seperti katak dalam tempurung. Di kekang, seperti itulah anggapanku kala itu. Aku ingin merantau, merasakan bebas dari segala kekangan. Menjadi gadis yang mandiri, mungkin sok mandiri. Menjadi gadis yang tidak bergantung dengan oranglain dalam hal aktivitasku. Aku ingin melakukannya sendiri, bukankah ibu mengajarkanku untuk hidup mandiri? Inilah saatnya gadismu membuktikannya. Dan dengan segala bujuk rayu dari keluarga, akhirnya Ibu mengizinkan, meski aku tahu ibu tidak sungguh-sungguh memberikan izinnya. Ibu, maafkan aku. Karena aku tidak mengerti bagaimana engkau mencintaiku saat itu, aku memilih meninggalkanmu, tapi percayalah anakmu ini akan mewujudkan cita-citanya untuk membahagiakanmu.

Usai menjadi anak rantau selama tiga tahun di kota Jambi, aku pulang menceritakan semuanya pada Ibu, tentang segala yang kudapatkan di ranah rantau, baik dan buruk, mungkin ibu melihatnya dalam diri gadismu ini. Maafkan aku, Bu. Karena aku berniat merantau lebih jauh lagi untuk melanjutkan kuliah. Selangkah lagi, Bu. Aku akan menjadi dokter, akan merawat ibu, bapak, kakek, nenek, dan semua masyarakat di desa, aku akan mengabdi pada desa kelahiranku setelah menjadi dokter. Begitulah bentuk rayuku. Ibu benar-benar mempan dengan segala rayuku. Hingga akhirnya Ibu akan tetap diam, dan menyiapkan segala keperluanku untuk berangkat, meski aku tahu ibu tidak sungguh-sungguh melepasku terlalu jauh. Dalam benak sosok ibu, tidak pernah ia memberikan ruang dengan jarak begitu jauh untuk anaknya. Tapi ia selalu mengalah, ia akan diam dan berdoa dalam hatinya. Semoga anaknya selalu melangkah pada jalan yang lurus, dan satu keinginannya yang mungkin tidak kita sadari, Ibu selalu menunggu kepulangan anaknya, kapanpun dan bagaimanapun keadaan kita. Karena ibu adalah pangkuan dan pelukan yang paling kau rindukan saat kau berada di ranah rantau.
Ibu, maafkan aku. Bukan karena aku tidak mengerti caramu mencintaiku, hingga aku memilih jauh dari pangkuan ibu. Bukan karena tidak sayang, tapi karena aku menyayangimu dengan sangat. Sungguh, Bu. Saat kaki ini melangkah menjauhi rumah, jiwaku tetap tinggal bersamamu. 

Kini, dalam setiap desah nafasku, dalam setiap langkahku, doamu selalu mengiringinya. Terimahkasih, Ibu. Karena engkau telah mengajarkan kesederhanaan hidup, perjuangan cita dan cinta. Sekali lagi, terimakasih Ibu.

setiap diajak foto, ibu tidak mau jika tidak dalam keadaan cantik. 




Kau adalah langitku, bumiku, lautku, samuderaku, segalanya bagiku…

Salam kasih dari yang terkasih,

Anak gadismu, 
Sarni Kurniati.
Batam, 24 November 2014.
Bilik Rindu, Asrama Penantian.
       


About Sarni Kurniati

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas euismod diam at commodo sagittis. Nam id molestie velit. Nunc id nisl tristique, dapibus tellus quis, dictum metus. Pellentesque id imperdiet est.

2 comments:

  1. Ibuk, memang cantik, tanpa dandan pun tetap cantik di mata anak-anaknya. :) Pasti Ibu kak Yane sangat cantik :)

    ReplyDelete


Krim Pesan

Name

Email *

Message *

Translate

.

IBX5A8FCDBFEF8FC