Catatan Harian Sakura

Karena dengan menulis, segala bentuk kebaikan tidak akan berhenti di depan matamu
Follow Me

Lahir dari Rahim Kesabaran



By  Sarni Kurniati     9/07/2015 12:45:00 AM     


Ini ujian yang kesekian kali.
Dan lagi, terlahir dari rahim kesabaran.

Hari ini, 07 September 2015. Pukul 13.41 WIB, Batam Centre. Aku duduk dengan perasaan yang  tak bisa diungkapkan dengan lisan bahkan tulisan, di Perpustakaan kampus, dan di saat teman-teman yang lain sedang hikmat mengikuti ujian Blok Tumbuh Kembang-Geriatri. Aku terlahir kembali dari rahim kesabaran.

dan tentu kalian bertanya? kenapa aku memilih berada diperpus daripada bersama mereka mengikuti ujian. Kalian sungguh ingin mendengarnya? Tunggu dulu. Aku menulis ini tanpa linangan air mata, ingat, tanpa linangan air mata. Dan berat rasanya harus mengatakan pada kalian, bahwa aku tidak diperbolehkan mengikuti ujian. Kenapa? Simak saja ceritanya.

Jum'at, 04 September 2015.

Pagi itu aku baru saja menyelesaikan mading. Mading kamar. Ini bukan tugas dari siapapun, ini adalah caraku agar lebih sering mengingat untuk siapa aku berada disini. Aku menempel foto Ibuk dan Bapak berdampingan dengan fotoku, lalu dibawahnya gambar Ka'bah. Aku berniat menjalankan umroh bersama Bapak dan Ibuk setelah wisuda. Itu rencana awal dan tidak akan bergeser dari rencana apapun. Tapi sebaik-baik rencana manusia tentu Allah Perencana terbaik untuk hidupku.

Beberapa menit kemudian.

Kabar itu datang. Ini tidak sesuai dengan rencana. Allah begitu cepat sekali menguji niatku.

Aku termasuk dalam tigapuluh daftar nama yang tidak boleh mengikuti ujian blok tumbuh kembang anak dan geriatri.

Kenapa aku?

Bukankah aku selalu datang kuliah? meskipun lebih sering terlambat. Baiklah, akan kujelaskan dihadapan dosen nantinya.

Ini pertama kalinya dan tidak akan pernah terulang lagi.

Menurut absen, aku dinyatakan tidak hadir. Dinyatakan titip absen karena tanda tangan sebelumnya tidak mirip. Atau mungkin ada sebab lain. Aku merasa tidak pernah bermasalah. Sungguh, aku anak baik-baik. Tidak pernah menikung jalan pintas manapun. :)

Baiklah, tetap berkhusnudzon.

setelah menjelaskan kepada dosen, penjelasanku tidak diterima. Kalau begitu apa yang harus saya lakukan agar dokter percaya?

Ini tanda tangan saya, Dok. Sungguh, ini tulisan saya mirip sekali dengan tulisan sebelumnya. 

Tetap tidak berhasil.

Bagaimana kalau saya perlihatkan catatan kuliah saat itu, Dok?

Beliau mengiyakan, tapi kenyataannya ia tidak menerima pembuktianku. Entahlah, aku kehabisan cara membujuknya.

Aku tidak tahu kenapa beliau tidak percaya. Apakah aku terlihat tidak pantas dipercayai?

Ya Rabbi, aku tidak tahu lagi bagaimana cara membujuknya.

Sementara di kelas, ada desas desus tentang "seseorang" yang berada dibalik ini semua. Dan komting berusaha mencari solusi lain. Masih ada harapan, selalu berharap masih ada harapan.


Berjuanglah, entah pada akhirnya yang dijuangkan terwujud atau tidak, kita tetaplah menjadi pemenang.
Berjuang, tidak pernah ada habisnya, meski saat ini tak ada lagi harapan.
Berjuanglah, saat  pintu yang kita tunggu tidak memberi harapan, percayalah pintu yang lain terbuka menyambut kedatangan kita.
Berjuanglah, karena sesuatu yang berharga tidak bisa diraih dengan percuma.

---------
Senin, 07 September 2015.

Keputusan itu tidak juga berubah satu senti pun.

kami tidak diperbolehkan mengikuti ujian. Baiklah, meskipun begitu aku tetap pergi ke kampus. Melapangkan hati. Membuang pikiran negatif. Mencegah air mata itu turun. Anggap saja aku duduk ditengah-tengah mereka. Tersenyumlah, apapun masalahnya, harus tetap melangkah. Sudah sejauh ini, tak ada kata menyerah. Berjuang, Berjuang, Berjuang. Harus lebih baik lagi. :)



About Sarni Kurniati

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas euismod diam at commodo sagittis. Nam id molestie velit. Nunc id nisl tristique, dapibus tellus quis, dictum metus. Pellentesque id imperdiet est.

No comments:

Post a Comment


Krim Pesan

Name

Email *

Message *

Translate