Catatan Harian Sakura

Karena dengan menulis, segala bentuk kebaikan tidak akan berhenti di depan matamu
Follow Me

Kita dan Taman Bunga



By  Sarni Kurniati     1/09/2016 07:03:00 AM    Labels: 
Pagi tadi. Entah kenapa memilih jogging untuk mengawali hari ini. Pintu-pintu dan jendela mereka masih tertutup rapat. Akhirnya, jogging sendiri. Sudah terbiasa melakukan sesuatu sendiri. Tidak ada yang berbeda. Pukul enam pagi mungkin termasuk lewat dari jam jogging. Rencananya rute jogging di lapangan basket, setelah melihat dua lelaki yang duduk di anak tangga lapangan, aku memilih rute yang berbeda, jogging di depan kampus, tepatnya di perumahan KDA. Aku mulai menyetel musiknya Saif Adam setelah menyeberangi jalan. Seorang perempuan baru saja usai jogging karena di tangannya menggantung kantung kresek yang berisi makanan, sarapan pagi. Iya, setelah jogging aku juga akan mampir sarapan bubur ayam.

Berlari, dan berlari. Terakhir kali jogging tiga bulan yang lalu. Pantas saja  dua tungkai ini cepat sekali lelahnya. Lima meter, berhenti. Jalan santai. Berlari lagi. Sembari menatap langit, senyum-senyum sendiri. Langitnya bersih tanpa awan, hanya ada semburat sinar matahari yang pelan-pelan muncul dari sudut langit. Tak terasa, sudah duapuluh satu tahun enam bulan sejak ruh dititipkan dalam jasadku, aku masih bisa menyaksikan matahari terbit dan terbenam, meskipun lebih sering dari bilik jendela. Rasanya ingin sekali menulis semuanya selama duapuluh satu tahun kehidupanku. Tapi, Long Term, ingatan panjangku tak bisa pulih. Hanya hal-hal tertentu semasa kecil yang masih teringat, sayang sekali ingatan itu tentang kenangan buruk. Dari segala hal kenangan, kenangan buruk yang paling menancap dalam ingatan. Aku tak ingin mengingatnya. Tapi setiap kali sendiri, ingatan itu silih berganti muncul membuatku harus mengambil nafas dalam. Apakah aku belum memaafkan hari itu? Aku telah memaafkan semua kenangan buruk ini. Sungguh.
Baiklah, aku tidak ingin membahas kenangan buruk itu lagi. Sudah cukup sedihnya, tersenyumlah. aku menulis ini dengan judul di atas karena seseorang, kita baru saja menjadi teman di sebuah taman bunga tempat rute jogging pagi tadi. Setelah tiba di bundaran taman bunga yang berada di ujung jalan perumahan KDA, aku berhenti untuk melakukan pendinginan, duduk di pinggir bundaran dan melihat lalu lalang kendaraan yang jaraknya satu meter dari tempatku duduk. Di seberang bundaran, seorang wanita paruh baya melakukan gerakan olah tubuh. Dia mengenakan baju berlengan pendek dan celana pendek dengan warna yang terlalu muda untuk umurnya. Melihat gerakannya yang lucu, aku memilih untuk mendekatinya.
“Saya boleh ikut gabung senam, Bu?” Si Ibu pasti sudah menyadari bahwa aku memperhatikannya dari tadi.
“Boleh, Bu.” Dia memanggilku, Bu? Apakah aku terlihat seperti Ibu-Ibu?
Aku mengikuti gerakannya sebentar, Tiba-tiba Beliau menceritakan tentang dirinya yang baru tiba di batam, tapi aku masih menggerakkan kedua tanganku sembari mendengar beliau cerita.
“Saya baru satu bulan di Batam, Bu. Saya tinggal di rumah anak saya di Cluster Elang, tidak jauh dari taman ini. Dari jam 5 subuh saya di sini.” Saya hanya tersenyum mendengar ucapan si Ibu. Semangat sekali ya.
“Ibu tinggal di mana?” Tanyanya.
“Saya tinggal di Asrama Kampus, Bu. Tempat saya tidak jauh dari sini, di ujung jalan perumahan  ini, Bu.” Aku menunjuk jalan menuju kampus.
Sekitar lima menit, beliau lebih banyak menceritakan tentang dirinya, saya hanya tersenyum dan mengiyakan, sesekali mengangguk takjub dengan cerita beliau. Sampai akhirnya beliau pamit pulang.
“Saya pulang dulu ya, Bu.”
“Oh, iya, Bu. Sekalian saya juga mau pulang.”
Dua langkah dari tempat awal kami bertemu, beliau mulai bertanya padaku.
“Punya saudara kandung berapa?”
“Saya Cuma berdua, Bu. Adik saya laki-laki, usia kami beda sepuluh tahun.”
Entah kapan tangan kami saling bergenggaman. Saat itulah kami menjadi teman. Kamu tahu? Saat merasakan hangat tangan beliau, pikiranku justru mengingat rumah, Nenek, Mama, Ibuk Siti dan suaminya yang juga menjadi temanku ketika melakukan tugas FOME di Tanjung Riau, apa kabar mereka? Sejak mei, aku belum pernah mengunjungi mereka lagi. Bulan ini, aku harus bertemu mereka, belajar banyak hal dari pasangan yang selalu bersama sampai mereka kakek nenek, seperti sekarang.
“Ibu usianya berapa?” tanyaku.
“75 tahun, anak saya ada lima, yang di Cluster Elang ini anak bungsu.”
“Wah, tapi Ibu masih sehat, masih kuat untuk jalan-jalan.” Aku mengacungkan jempol.
“Tidak, Nak. Lutut saya sering sakit, katanya sih penyakit orang tua, kemaren sudah diperiksa.” Beliau menekan-nekan lututnya.
Saya mengangguk dengan wajah prihatin.
“Kebetulan saya kuliah di bidang kesehatan, Bu….” Belum selesai aku bicara, beliau memotong ucapanku.
Beliau panjang lebar menceritakan tentang sakitnya, bahkan hasil pemeriksaan dokter beliau ceritakan padaku. Beliau memiliki kolesterol dan asam urat tinggi.
“Berapa lama lagi selesainya, Nak?” panggilannya sudah tepat.
“InsyaAllah, dua tahun lagi, Bu.”
Sepanjang jalan menuju Cluster Elang tangan kami masih bergenggaman. Tiba di depan gang Cluster Elang, beliau mengurungkan niatnya untuk pulang, dan kami melanjutkan perjalanan, hingga melewati satu gang lagi beliau pamit.
“Sampai di sini saja, ya, Nak. Ibu pulang dulu, kamu anak yang ramah, semoga mendapatkan nilai yang memuaskan, dan semoga orangtuamu bangga denganmu.” Saat mengatakan ini, beliau melepaskan genggamannya, aku mencium punggung tangannya yang keriput.
“Amiin. Semoga Ibu sehat selalu.”
Untuk tiga hal yang beliau ucapkan, sepanjang perjalanan pulang aku memikirkannya.
Yang pertama, anak yang ramah. Apakah aku anak yang ramah? Nyatanya aku lebih sering cuek, sifat ramah itu bukan aku. Apakah aku bisa menjadi anak yang ramah? Iya, harus menjadi anak yang ramah.
Yang kedua, Semoga Nilai yang memuaskan. Berapa nilai yang memuaskan bagiku? Jujur, selama kuliah, aku tidak mengerti apa itu nilai yang memuaskan, belajar untuk mendapatkan nilai yang memuaskan? Tapi Bagiku, nilai yang memuaskan adalah nilai dari hasil kerja otak sendiri. Berapapun itu, aku telah melakukannya dengan baik, meski nilai ini tidak memuaskan bagi mereka, tapi bagiku cukup menikmati hasil kerja sendiri. Dan maaf, kalau nilai ini tidak memuaskan bagi kalian. Karena nilai itu bukan alat pemuas, heheh.
Yang ketiga, Semoga orangtuamu bangga padamu.  Aku tidak tahu, apa arti kebanggaan bagi Bapak dan Ibu? Apakah dengan anaknya menjadi sarjana? Anaknya menjadi dokter? Mampu mewujudkan segala impiannya? Muncul di media cetak dan menulis buku?
Apakah Bapak bangga memiliki Sarni?
Apakah Ibuk bangga melahirkan Sarni?
Pasti jawaban kalian adalah Iya. Karena jika tidak, kalian tidak akan melepaskannya sejauh ini, membiarkan anak gadis kalian satu-satunya merantau, mencicipi hidup sendiri agar kelak ketika waktu itu datang memisahkan kita, mungkin tidak begitu banyak kesedihan yang bercucuran, mungkin anak gadismu ini sudah bisa mandiri mengurus keperluannya sendiri. Mungkin juga sebaliknya, ia menyesal karena telah pergi dan lebih banyak waktu yang terlewatkan sendiri tanpa kehadiran kalian di sisinya.

Dan terima kasih Ibu Simanjunta, untuk cerita kita pagi ini. Sekarang kita resmi menjadi teman, kan? Semoga sehat selalu, ya, Bu.

Batam, 9 Januari 2016.

About Sarni Kurniati

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas euismod diam at commodo sagittis. Nam id molestie velit. Nunc id nisl tristique, dapibus tellus quis, dictum metus. Pellentesque id imperdiet est.

No comments:

Post a Comment


Krim Pesan

Name

Email *

Message *

Translate