Catatan Harian Sakura

Karena dengan menulis, segala bentuk kebaikan tidak akan berhenti di depan matamu
Follow Me

Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Sedatif Hipnotik



By  Sarni Kurniati     4/21/2016 06:01:00 AM    Labels:,, 
Pengertian Sedatif dan Hipnotik
1.    Sedatif
Sedatif adalah obat yang menurunkan ketegangan subjektif dan menginduksi ketenangan mental. Istilah sedatif sesungguhnya adalah sama dengan istilah ansiolitik yaitu obat yang menurunkan kecemasan. Obat-obat sedatif pada dasarnya segolongan dengan hipnotik, yaitu obat-obat yang bekerja menekan reaksi terhadap perangsangan terutama rangsangan emosi tanpa menimbulkan kantuk yang berat, obat-obat sedatif hanya menekan reaksi terhadap perangsangan emosi tanpa menimbulkan kantuk yang berat.1

2.    Hipnotik
Hipnotik adalah obat yang digunakan untuk menginduksi tidur. Hipnotik atau obat-obat tidur (bahasa Yunani: hypnos = tidur) adalah zat-zat yang diberikan pada malam hari dalam dosis terapi, dapat mempertinggi keinginan faal dan normal untuk tidur, mempermudah atau menyebabkan tidur (Tjay dan Rahardja, 2002). Hipnotik bekerja dengan cara mendepresi susunan saraf pusat (SSP) sehingga menyebabkan tidur, menambah keinginan tidur atau mempermudah tidur yang relatif tidak selektif, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan tenang atau kantuk, menidurkan, hingga yang berat (kecuali benzodiazepin) yaitu hilangnya kesadaran, keadaan anestesi, koma dan mati, bergantung pada dosis.
Hipnotik efektif dalam mempercepat waktu menidurkan, memperpanjang waktu tidur dengan mengurangi frekuensi bangun, serta memperbaiki kualitas (dalamnya) tidur. Akan tetapi mempersingkat periode tidur REM (Rapid Eye Movement). Kebutuhan tidur dapat dianggap sebagai suatu perlindungan dari organisme untuk menghindari pengaruh yang merugikan tubuh karena kurang tidur.Tidur yang baik, cukup dalam dan lama. Efek terpenting yang mempengaruhi kualitas tidur adalah penyingkatan waktu peniduran, perpanjangan masa tidur dan pengurangan jumlah periode bangun. Insomnia atau kesulitan tidur dapat diakibatkan oleh banyak gangguan fisik, misalnya batuk, rasa nyeri, atau sesak nafas. Yang sangat penting pula adalah gangguan jiwa, seperti emosi, ketegangan, kecemasan atau depresi.

B.  Penggolongan Obat Hipnotik dan Sedatif.

Terdapat 3 golongan agen sedatif – hipnotik, yaitu :
1.    Benzodiazepin
Golongan benzodiazepin menurut lama waktu kerjanya dapat dibagi menjadi 4 golongan senyawa: bekerja sangat cepat dengan t1/2 kurang dari 2 jam (midazolam, tiopental), bekerja cepat dengan t1/2 kurang dari 6 jam (triazolam, non-Benzodiazepin; zolpidem, zolpiklon), bekerja sedang dengan t1/2 antara 6 – 24 jam (estazolam, temazepam), bekerja lambat dengan t1/2 lebih dari 24 jam (flurazepam, diazepam, quazepam).3

2.    Barbiturat
Barbiturat pertama, barbitural (Veronal), diperkenalkan di Amerika Serikat pada tahun 1903. Barbital dan fenobarbital (Solfoton, Luminal), yang diperkenalkan segera setelahnya, adalah obat kerja lama dengan waktu paruh 12 sampai 24 jam. Amobarbital adalah barbiturate kerja menengah dengan waktu paruh 6 sampai 12 jam. Pentobarbital dan sekobarbital adalah barbiturate kerja singkat dengan waktu paruh 3 sampai 6 jam.1

3.      Zat Lir Barbiturat
Zat lir barbiturat yang paling sering disalahgunakan adalah metakualon, yang tidak lagi diproduksi di Amerika Serikat. Obat ini sering digunakan orang yang percaya bahwa zat tersebut meningkatkan kesenangan dalam aktivitas seksual. Penyalahgunaan metakualon biasanya mengonsumsi satu atau dua tablet standar (biasanya 300 mg per tablet) untuk memperoleh efek yang diinginkan. Nama jalanan untuk metakualon meliputi “mandrakes” dari preparat Inggris Mandrax, dan “soapers” dari merek dagang sopor. Luding Out dari nama dagang Quaalude berarti menjadi mabuk dengan metakualon, yang sering dikombinasikan dengan asupan alkohol berlebihan.1

C.  Epidemiologi

Menurut DSM-IV TR , sekitar 6 persen individu pernah menggunakan sedatif maupun penenang, secara illegal termasuk 0,3 persen yang melaporkan penggunaan sedatif pada tahun sebelumnya dan 0,1 persen yang melaporkan penggunaan sedatif pada bulan sebelumnya. Kelompok umur penggunaan sedatif (3 persen) atau obat penenang (6 persen) dengan prevalensi seumur hidup tertinggi adalah 26 sampai 34 tahun sementara mereka yang berusia 18 tahun sampai 25 tahun paling besar kemungkinan menggunakan pada tahun sebelumnya. Sekitar seperempat sampai sepertiga dari semua kunjungan ke ruang gawat darurat terkait zat melibatkan zat dari kelas ini. Rasio pasien pria terhadap wanita sebesar 3:1 dan rasio kulit putih terhadap kulit hitam 2:1. Beberapa orang menggunakan benzodiazapin sendiri , tapi orang yang menggunakan kokain sering menggunakan Benzodiazepin untuk mengurangi gejala putus zat dan penyalahguna opiod. Karena zat ini mudah diperoleh, Benzodiazepin juga digunakan oleh penyalahguna stimulansia , halusinogen, , dan fensilklidin untuk membantu mengurangi ansietas yang disebabkan oleh zat-zat tersebut, Sementara penyalahgunaan barbiturat lazim pada dewasa matur yang memilki riwayat penggunaan jangka lama penyalahgunaan zat ini, Benzodiazepin disalahgunakan kelompok usia yang lebih muda, biasanya di bawah usia 40 tahun. Kelompok ini mungkin memiliki sedikit predominansi laki-laki dan mempunyai rasui kulit putih terhadap kulit hitam 2:1. Benzodiazepin mungkin tidak disalahgunakan sesering zat lain untuk mabuk-mabukan atau menginduksi perasaan euforik. Melainkan, mereka digunakan ketika seseorang berharap mengalami perasaan rileks secara umum.3


D.   Etiologi dan Neurofarmakologi

Benzodiazepin, Barbiturat dan zat lir Barbiturat semua memiliki efek primer terhadap kompleks receptor asam gama aminobutirat (GABA) tipe A , yang memuat kanal ion klorida, situs pengikat gaba , dan situs pengikat yang telah didefinisikan dengan baik untuk Benzodiazepin. Barbiturat dan zat lir Barbiturat juga diyakini berikatan di suatu tempat pada kompleks reseptor GABA A.  Ketika Benzodiazepin , Barbiturat atau zat lir Barbiturat berikatan dengan kompleks tersebut , efeknya adalah meningkakan afinitas reseptor terhadap neurotransmitter endongenya yaitu GABA dan meningkatkan aliran ion klorida yang bermuatan negatif ke dalam neuron, influx dari ion klorida yang bermuatan negative ke dalam neuron bersifat inhibitorik, dan menyebabkan hiperpolarisasi neuron secara relatif terhadap ruang ekstraselular. Meski semua zat dalam kelas ini menginduksi toleransi dan ketergantungan fisik, mekanisme di balik efek ini pada benzodiazepin yang paling baik dipahami. Setelah penggunaan benzodiazepin jangka panjang, efek reseptor yang disebabkan oleh agonis melemah. Secara spesifik, stimulasi GABA oleh reseptor GABA A  mengakibatkan lebih sedikit influx klorida dibanding yang disebabkan oleh stimulasi GABA sebelum pemberian Benzodiazepin. Penurunan respon reseptor ini tidak disebabkan penurunan jumlah reseptor atau penurunan afinitas terhadap GABA. Dasar penurunan regulasi tampaknya adalah perangkaian ( coupling ) antara situs pengikat GABA dan aktivasi kanal ion klorida. Penurunan efisiensi perangkaian ini mungkin diatur di dalam kompleks reseptor GABAa itu sendiri atau melalui mekanisme neuronal lain.3



E.   Gambaran Kinis

1.        Pola Penyalahgunaan

Penggunaan Oral. Sedatif, hipnotik, dan ansiolitik semuanya dapat dikonsumsi peroral, baik hanya kadang-kadang untuk mencapai efek spesifik terbatas waktu atau secara teratur untuk memperoleh keadaan terintoksikasi yang konstan dan biasanya  ringan. Pola penyalahgunaan berkala dilakukan oleh orang muda yang mengonsumsi zat untuk mencapai relaksasi untuk satu malam, meningkatnya aktivitas seksual, dan euphoria ringan. Pola penggunaan yang teratur adalah berhubungan dengan orang yang usia pertengahan dan kelas menngah yang biasanya mendapatkan zat dari dokter keluarga sebagai suatu peresepan untuk insomnia atau kecemasan. Penyalahgunaan dari tipe ini mungkin mendapatkan resep dari beberapa dokter, dan pola penyalahgunaan atau ketergantungan dapat berjalan tak terdeteksi sampai tanda penyalahgunaan atau keterggantungan yang jelas disadari oleh keluarga, rekan kerja, atau dokternya. 3

Penggunaan Intravena. Bentuk parah penyalahgunaan mencakup penggunaan zat kelas ini secara intravena. Pengguna terutama dewasa muda yang akrab dengan zat illegal. Penggunaan barbiturat intravena adalah berhubungan dengan rasa menyenangkan, hangat, mengantuk dan pengguna mungkin lebih banyak menggunakan babiturat dibandingkan opiate atau opioid karena harga barbiturate yang lebih murah. Bahaya fisik dari penyuntikan adalah transmisi HIV, selulitis, komplikasi vascular akibat penyuntikan ke dalam atreri yang tidak disengaa, infeksi, dan rekasi alergi terhadap kontaminan. Penggunaan Intravena adalah berhubungan dengan derajat toleransi dan ketergantungan yang cepat dan kuat dengan sindrom putus zat yang berat.3

2.        Overdosis

Benzodiazepin
Berbeda dengan barbiturat dan zat lir barbiturate, benzodiazepin memiliki batas kemampuan yang besar bila dikonsumsi overdosis, suatu sifat yang secara signifikan berperan pada penerimaannya yang cepat. Rasio dosis efektif adalah sekitar 200 berbanding 1 atau lebih tinggi, karena minimalnya derajat depresi napas yang dikaitkan dengan benzodiazepine. Kondisi yang jauh lebih serius terjadi ketika benzodiazepine dikonsumsi overdosis dalam kombinasi dengan zat sedatif hipnotik lain, seperti alkohol. Pada kasus semacam ini, dosis benzodiazepine dapat menyebabkan kematian. 1

Barbiturat
Barbiturat bersifat letal bila dikonsumsi overdosis karena menginduksi depresi napas. Selain percobaan bunuh diri secara sengaja, overdosis secara tak sengaja atau kebetulan kerap terjadi. Seperti halnya benzodiazepine, efek letal barbiturate bersifat adiktif terhadap sedatif atau hipnotik lain, termasuk alkohol dan benzodiazepine. Overdosis barbiturate ditandai dengan induksi koma, henti napas, gagal kardiovaskuler, dan kematian.1

Zal Lir Barbiturat
Zat lir barbiturate bervariasi letalitasnya dan biasanya berada di tengah-tengah antara keamanan relative benzodiazepine dan letalitas tinggi barbiturate. Sebagai contoh, overdosis metakuolon, dapat mengakibatkan kegelisahan, delirium, hypertonia spasme otot, dan konvulsi serta, pada dosis sangat tinggi, kematian.  Tidak seperti barbiturat, metakualon jarang menyebabkan depresi napas atau kardiovaskuler berat dan sebagian besar fatalitas terjadi akibat kombinasi metakualon dengan alkohol.


F.       DIAGNOSIS

Revisi teks edisi keempat the Diagnostic and statistical manual of mental disorder IV mendaftar sejumlah gangguan terkait sedatif dan hipnotik atau ansiolitik tapi hanya menyertakan kriteria diagnosis spesifik untuk intoksikasi sedatif dan hipnotik dan keadaan putus sedatif, hipnotik atau ansiolitik. Kriteria untuk mendiagnosis gangguan terkait sedatif, hipnotik atau ansiolitik lain diuraikan pada DSM-IV-TR yang spesifik untuk gejala utama- sebagai contoh, gangguan psikotik terinduksi sedatif hipnotik atau ansiolitik. 1

1.        Ketergantungan dan Penyalahgunaan
Ketergantungan sedatif, hipnotik atau ansiolitik dan penyalahgunaan sedatif, hipnotik atau ansiolitik didiagnosis berdasarkan kriteria umum ketergantungan zat dan penyalahgunaan zat pada DSM-IV-TR. 

Gangguan Terkait Sedatif, Hipnotik atau Ansiolitik DSM-IV-TR

Gangguan Penggunaan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik
Ketergantungan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik
Penyalahgunaan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik
Gangguan terinduksi sedatif, hipnotik, atau ansiolitik
Intokikasi sedatif, hipnotik, atau ansiolitik
Keadaan putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik
Tentukan apakah: dengan gangguan persepsi
Delirium pada intoksikasi sedatif, hipnotik, atau ansiolitik
Delirium pada putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik
Dementia persisten terinduksi sedatif, hipnotik, atau ansiolitik
Gangguan psikotik terinduksi sedatif, hipnotik, atau ansiolitik, dengan waham
Tentukan apakah:
Dengan awitan saat intoksikasi
Dengan awitan saat putus zat
Gangguan psikotik terinduksi sedatif, hipnotik, atau ansiolitik, dengan halusinasi
Tentukan apakah:
Dengan awitan saat intoksikasi
Dengan awitan saat putus zat
Gangguan mood terinduksi sedatif, hipnotik, atau ansiolitik.
Tentukan apakah:
Dengan awitan saat intoksikasi
Dengan awitan saat putus zat
Gangguan ansietas terinduksi sedatif, hipnotik, atau ansiolitik.
Tentukan apakah:
Dengan awitan saat putus zat
Disfungsi seksual terinduksi sedatif, hipnotik, atau ansiolitik.
Tentukan apakah:
Dengan awitan saat putus zat
Gangguan tidur terinduksi sedatif, hipnotik, atau ansiolitik.
Tentukan apakah:
Dengan awitan saat intoksikasi
Dengan awitan saat putus zat
Gangguan terkait sedatif, hipnotik, atau ansiolitik yang tak tergolongkan.2



2.        Intoksikasi
DSM-IV-TR memuat satu set kriteria diagnosis untuk intoksikasi oleh zat sedatif, hipnotik atau ansiolitik apapun. Meski sindrom intoksikasi yang diinduksi oleh semua zat ini serupa, perbedaan klinis yang samar dapat diamati, terutama dengan intoksikasi yang melibatkan dosis kecil, diagnosis intoksikasi oleh salah satu dari kelas zat ini paling baik dikonfirmasi dengan mengambil sampel darah untuk penapisan zat.

Benzodiazepin
Intoksikasi benzodiazepin dapat menyebabkan hambatan perilaku yang berpotensi
menyebabkan timbul perilaku yang agresif dan meresahkan orang lain. Efeknya mungkin paling sering terjadi ketika Benzodiazepin dikonsumsi bersama dengan alcohol.  Intoksikasi benzodiazepin menyebabkan lebih sedikit euphoria dibanding dengan intoksikasi oleh obat lain dalam kelas ini. Karakteristik ini menjadi dasar lebih rendah nya potensi penyalahgunaan dan ketergantungan Benzodiazepin dari pada Barbiturat. 1



Barbiturat dan zat lir-barbiturat

Barbiturat dan zat lir barbiturat dikonsumsi dalam jumlah relatif kecil, sindrom klinis intoksikasinya tidak dapat dibedakan dengan yang disebabkan oleh intoksikasi alcohol. Gejala meliputi kemalasan, inkoordinasi, kesulitan berpikir, daya ingat yang buruk, bicara dan pemahaman lambat, daya nilai salah, impuls agresif seksual yang tidak dapat dihambat, perhatian yang yang berkurang, emosi , ciri kepribadian dasar yang berlebihan. Gejala-gejala lain yang mungkin ada adalah hostilitas, argumentative, kemurungan dan kadang-kadang ide paranoid serta suicidal. Efek neurologis mencakup nistagmus , diplopia, strabismus, cara berjalan ataksik dan tanda Romberg postif, hipotonia dan berkurangnya reflex superficial. 1

Kriteria Diagnosis DSM IV- TR Intoksikasi Sedatif, Hipnotik atau Ansiolitik.
A.      Penggunaan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik baru-baru ini.
B.       Perubahan psikologis atau perilaku maladaptive yang secara klinis signifikan (cth.,perilaku seksual tidak pada tempatnya atau agresif, labilitas mood, daya nilai terganggu, fungsi social atau okupasional terganggu) yang timbul selama atau segera setelah, penggunaan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik.
C.       Satu atau lebih tanda berikut, timbul selama, atau segera setelah penggunaan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik:
1)   Bicara cadel
2)   Inkoordinasi
3)   Cara berjalan tidak stabil
4)   Nistagmus
5)   Hendaya atensi atau memori
6)   Stupor atau koma
D.    Gejala tidak disebabkan kondisi medis umum dan tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain.2


3.        Keadaan Putus Zat

DSM-IV-TR memuat satu set kriteria diagnosis untuk keadaan putus zat dari zat sedatif, hipnotik atau ansiolitik. Klinisi dapat merinci “dengan gangguan persepsi” bila ilusi, persepsi yang berubah atau halusinasi tampak namun disertai uji realitas yang intak Benzodiazepin mentebabkan sindrom putus zat dan bahwa keadaan putus zat dari Benzodiazepin juga dapat mengakibatkan penyulit medis serius.

Benzodiazepin
Keparahan sindrom putus zat yang disebabkan oleh Benzodiazepin bervarasi secara signifikan tergantung dosis rata-rata dan durasi penggunaan, tapi sindrom putus zat ringan bahkan dapat terjadi setelah penggunaan jangka pendek Benzodiazepin dosis yang rendah. Sindrom putus zat yang signifikan terjadi pada penghentian dosis, contohnya dalam kisaran 40 mg sehari untuk diazepam, meski 10-20 mg sehari tetapi apabila dikonsumsi dalamm waktu yang lama maka bila dihentikan juga akan mengakibatkan sindrom putus zat. Awitan gejala putus zat biasanya terjadi 2 sampai 3 hari setelah penghentian penggunaan, tapi dengan obat dengan waktu paruh lama seperti diazepam, latensi sebelum awitan mungkin 5 sampai 6 hari. Gejalanya meliputi ansietas , disforia, intoleransi terhadap cahaya terang dan suara keras, mual , berkerngat, kedutan otot dan kadang-kadang kejang ( biasanya pada dosis diazepam 50 mg perhari atau lebih ).3

Barbiturat dan zat lir-barbiturat
Sindrom putus zat untuk Barbiturat dan zat lir Barbiturat berkisar dari gejala ringan ( contoh ansietas, kelemahan, berkeringat dan insomnia ) sampai gejala berat ( contoh kejang, delirium, kolaps kardiovaskular dan kematian ). Orang yang telah menyalahgunakan fenobarbital dalam kisaran 400 mg sehari dapat mengalami gejala putus zat yang ringan; mereka yang telah menyalahgunakan zat dalam kisaran 800 mg sehari mengalami hipotensi ortostatik, kelemahan, tremor, dan ansietas berat. Kurang lebih 75 persen orang-orang ini mengalami kejang terkait putus zat. Pengguna dosis diatas 800 mg perhari dapat mengalami anoreksia , delirium, halusinasi dan kejang berulang. Sebagian besar gejala muncul dalam 3 hari pertama. Dan gangguan psikotik apabila terjadi dimulai pada hari ketiga sampai kedelapan. 1


Kriteria Diagnosis DSM IV- TR Keadaan Putus Sedatif, Hipnotik atau Ansiolitik.
A.      Penghentian atau pengurangan penggunaan Sedatif, Hipnotik atau Ansiolitik yang telah berlangsung lama dan memanjang.
B.       Dua atau lebih hal berikut, yang timbul dalam hitungan jam sampai beberapa hari setelah Kriteria A:
1)   Hiperaktivitas otonom (cth., berkeringat atau denyut nadi lebih dari 100)
2)   Peningkatan tremor tangan
3)   Insomnia
4)   Mual atau muntah
5)   Ilusi atau halusinasi visual, taktil, atau auditorik singkat
6)   Agitasi psikomotor
7)   Ansietas
8)   Kejang grand mal
C.     Gejala pada kriteria B menyebabkan penderitaan atau hendaya yang secara klinis signifikan dalam fungsi social, okupasional, atau area fungsi penting lain.
D.    Gejala tidak disebabkan kondisi medis umum dan tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain.
Tentukan apakah:
Dengan gangguan persepsi.

G.      Gangguan yang Disebabkan Sedatif dan Hipnotik

1.        Delirium
DSM-IV-TR memungkinkan diagnosis delirium pada intoksikasi sedatif, hipnotik atau ansiolitik dan delirium pada putus sedatif hipnotik atau ansiolitik. Delirium yang tidak dapat dibedakan dengan delirium tremens yang disebabkan oleh keadaan putus alcohol lebih sering dijumpai pada keadaan putus Barbiturat dibanding pada keadaan putus zat Benzodiazepin. Delirium yang dikaitkan dengan intoksikasi dapat terlihat pada Barbiturat maupun Benzodiazepin bila dosisnya cukup tinggi. 1

2.        Dementia Persisten
DSM-IV-TR memungkinkan diagnosis demensia persisten terinduksi sedatif, hipnotik atau ansiolitik. Keberadaan gangguan ini controversial, karena terdapat ketidakpastian apakah demensia persisten akibat penggunaan zat itu sendiri atau terhadap gambaran terkait penggunaan zat. Seseorang sebaiknya mengevaluasi lebih lanjut diagnosis inidengan menggunaan kriteria DSM-IV-TR untuk memastikan validitasnya.1

3.        Gangguan Amnesik Persisten
DSM-IV-TR memungkinkan diagnosis gangguan amnesik persisten terinduksi sedatif, hipnotik, atau ansiolitik. Gangguan amnesik yang dikaitkan dengan sedatif dan hipnotif mungkin tidak terdiagnosis. Satu pengecualian adalah meningkatnya jumlah laporan episode amnesik yang disebabkan oleh penggunaan jangka pendek Benzodiazepin dengan waktu paruh pendek contoh : triazolam. 1

4.        Gangguan Psikotik
Gejala psikotik pada keadaan putus Barbiturat bisa jadi tidak dapat dibedakan dengan delirium tremens yang disebabkan oleh alcohol. Agitasi , waham dan halusniasi biasanya visual, tapi terkadang gambaran taktil atau auditorik timbul setelah sekitar 1 minggu abstinensi. Gejala psikotik yang disebabkan oleh intoksikasi atau keadaan putus zat lebih sering pada pemakaian barbiturat dibanding Benzodiazepin dan didiagnosis sebagai gangguan psikotik terinduksi sedatif , dan hipnotik. Klinisi dapat merinci lebih lanjut apakah waham atau halusinasi yang menjadi gejala predominannya.1

5.        Gangguan lain
Penggunaan sedatif, hipnotik atau ansiolitik juga dapat menyebabkankan gangguan mood, gangguan ansietas, gangguan tidur dan disfungsi seksual. Bila tidak ada kategori diagnostic yang dibahas sebelumnya yang tepat untuk seseorang dengan gangguan penggunaan sedatif dan hipnotik, diagnosis yang tepat adalah gangguan terkait sedatif, hipnotik yang tak tergolongkan.1

Kriteria Diagnosis DSM IV- TR Untuk Gangguan Terkait Sedatif, Hipnotik atau Ansiolitik yang Tak-Tergolongkan.
Kategori gangguan terkait sedatif, hipnotik, atau ansiolitik yang tak terinci ditujukan bagi gangguan yang dikaitkan dengan penggunaan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik yang tidak dapat diklasifikasikan sebagai ketergantungan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik; penyalahgunaan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik; intoksikasi sedatif, hipnotik, atau ansiolitik; keadaan putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik; delirium pada putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik. Delirium pada putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik; Dementia persisten terinduksi sedatif, hipnotik, atau ansiolitik; Gangguan psikotik terinduksi sedatif, hipnotik, atau ansiolitik; Gangguan psikotik terinduksi sedatif, hipnotik, atau ansiolitik; Gangguan mood terinduksi sedatif, hipnotik, atau ansiolitik; Gangguan ansietas terinduksi sedatif, hipnotik, atau ansiolitik; Disfungsi seksual terinduksi sedatif, hipnotik, atau ansiolitik; Gangguan tidur terinduksi sedatif, hipnotik, atau ansiolitik.2


H.      Pentalaksanaan

1.        Keadaan Putus Zat

Benzodiazepin
Oleh karena beberapa Benzodiazepin di eliminasi secara lambat dari tubuh, gejala putus zat dapat terus berlangsung selama beberapa minggu. Untuk mencegah kejang dan gejala putus zat lain, klinisi sebaiknya mengurangi dosis secara bertahap. Sejumlah laporan mengindikasikan bahwa karbamazepin ( Tegretol ) mungkin berguna dalam penanganan keadaan putus zat Benzodiazepin.1

Barbiturat
Untuk menghindari kematian mendadak selama keadaan putus zat Barbiturat, klinisi harus mengikuti pedoman klinis konservatif. Klinisi sebaiknya tidak memberikan Barbiturat kepada pasien yang koma atau sangat terintoksikasi . Seorang klinisi sebaiknya mencoba menentukan dosis harian barbiturat yang biasa digunakan pasien kemudian menguji dosis tersebut secara klinis. Sebagai contoh , seorang klinisi dapat member dosis uji 200 mg pentobarbital tiap jam sampai terjadi intoksikasi ringan namun tidak terjadi gejala putus zat.3

Klinisi kemudian dapat menurunkan total dosis harian dengan kecepatan sekitar 10 persen dari total dosis harian. Bila dosis yang tepat telah ditentukan, barbiturat kerja lama dapat digunakan untuk periode detoksifikasi. Selama proses ini, pasien mungkin mulai mengalami gejala putus zat, pada kasus demikian klinisi sebaiknya membagi dua penurunan harian. Pada prosedur putus zat , fenobarbital dapat disubtitusi dengan Barbiturat kerja singkat yang lebih sering disalahgunakan. Efek fenobarbital bertahan lebih lama, dan karena lebih sedikit terjadi fluktuasi kadar darah Barbiturat, fenobarbital tidak menyebabkan tanda toksik atau overdosis serius yang teramati. Dosis adekuat adalah 30 mg fenobarbital untuk setiap 100 mg zat kerja singkat. Pengguna sebaiknya dipertahankan selama 2 hari pada kadar tersebut sebelum dosis dukurangi lebih lanjut. Regimen ini analog dengan subtitusi metadon untuk heroin Setelah keadaan putus zat selesai, pasien harus mengatasi hasrat untuk mulai mengomsumsi zat lagi. Meski subtitusi sedatif atau hipnotik nonbarbiturat untuk Barbiturat telah disarankan sebagai usaha terapeutik preventif , hal ini sering berujung dengan menggantikan ketergantungan pada satu zat dengan zat lain. 3

Overdosis
Penanganan overdosis kelas zat ini mencakup lavase lambung, arang teraktivasi, pemantauan tanda vital dan aktivitas system saraf pusat. Pasien overdosis yang datang mencari pertolongan medis saat terjaga sebaiknya dijaga jangan sampai jatuh ke keadaan tidak sadar. Memasang jalur intravena dan endotrakealtube sangat perlu untuk memantau keadaan vital pasien dan jalan napas nya.1



DAFTAR PUSTAKA


1. Sadock BJ, Sadock VA. 2014. Kaplan & Sadock; Buku Ajar Psikiatri Klinis. Ed 2. Jakarta: EGC.

2. Maslim rusdi. 2000. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ III dan DSM-IV. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat. Jakarta: Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan.

3. Kaplan HI, Sadock BJ, Greb JA. 2010.  Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Tangerang. Binarupa Aksara.


About Sarni Kurniati

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas euismod diam at commodo sagittis. Nam id molestie velit. Nunc id nisl tristique, dapibus tellus quis, dictum metus. Pellentesque id imperdiet est.

4 comments:

  1. Tambahan ilmu baru, terima kasih ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 mbak Silvi, terima kasih sudah mampir :)

      Delete
  2. Buset panjang amat kyk skripsi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha ini tugas koas, bg iqbal. Kalau skripsi mah lebh panjg dari ini... :)

      Delete


Krim Pesan

Name

Email *

Message *

Translate