Catatan Harian Sakura

Karena dengan menulis, segala bentuk kebaikan tidak akan berhenti di depan matamu
Follow Me

Jatuh



By  Sarni Kurniati     10/01/2016 06:11:00 AM    Labels:,, 
Selalu ada senyum setelah air mata
Air mata tidak akan terus menerus jatuh
Selalu ada senyum yang menyambutnya dan berbisik,
Tersenyumlah,
Semua akan baik-baik saja
Jatuh berkali-kali, dan bangun setiap kali jatuh.

Tentang Jatuh. Kisah ini bukan kisah orang yang jatuh cinta. Tapi seseorang yang jatuh dari keinginan, jatuh dari impian, jatuh dari nasib, jatuh dari harapan. Meski berkali-kali jatuh, ia justru memilih bangkit dari setiap jatuhnya. Dia mencintai jatuh. Karena setiap ia bangkit selalu ada doa yang menguatkannya.

Raja siang mulai menampakkan kuasanya. Sepasang daun jendela telah menanti kehangatan sinarnya. Sementara di bibir jendela, dia duduk menggenggam gadget mungilnya yang berwarna keemasan. Cahaya matahari yang masuk menyatu dengan warna keemasan benda ditangannya. Tidak jauh dari tempat dia duduk, kertas origami berserakan di lantai. Lebih banyak kertas yang kusut bekas lipatan, tapi ada yang sempurna lipatannya menjadi sebuah bentuk yang indah, bentuk hati. Dia baru saja menyelesaikan sesuatu untuk dibawa ke rumah lentera. Saat hendak menyelesaikan lipatan terakhirnya, Line berdering. Berkali-kali.

“Berikut adalah nama-nama mahasiswa yang tidak dapat mengikuti ujian,” 

Dia duduk di bibir jendela yang menghadap Barat. menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Menghela napas panjang, berkali-berkali ia melepaskan helaan napasnya dengan ritme pelan. Dia mencari namanya. Tepat di urutan tigapuluh. Dia menyebut namanya bersamaan helaan napas terakhirnya yang panjang.

“Almira.”

Dan dia kembali jatuh. Jatuh dari impian. Jatuh dari sesuatu yang paling ia takutkan.



***
Saat menemukan namanya tertera dalam daftar mahasiswa yang tidak bisa mengikuti ujian, dia segera mengambil tindakan. Bertanya, meminta penjelasan, dan memberikan penjelasan kepada siapapun yang dia temui di sepanjang perjalanan menuju ruang dosen. Kabar buruk itu ternyata berasal dari absen kuliah.
“Untuk lebih jelas, lebih baik temui yang memutuskan masalah ini. Jelaskan yang sejujurnya, Ra.” Ujar ketua kelas saat mereka berpapasan di depan ruangan dosen.
Saat hendak memasuki ruangan, salah satu mahasiswa yang senasib dengannya menarik lengan Almira.
“Almira? Bukannya kamu selalu datang kuliah?”
Almira mengangkat bahunya.
“Iya, aku tidak tahu kenapa namaku ada di sana,” Jawabnya dengan langkah yang lemas dan wajah memelas.
Langkah mereka tepat di hadapan para dosen yang sibuk dengan dokumen-dokumen di atas meja. Dia melangkah tanpa ragu menuju meja yang tidak jauh dari pintu, hanya lima langkah untuk tiba di depan meja itu. Dan lagi, dia menghela napas panjang sebelum melangkah, bismillah.
Di atas meja itu tertera nama pemiliknya, Dokter Yura.
“Ada yang bisa saya bantu?” Seseorang yang duduk di depan meja itu menyapa dengan senyum. 
Almira tersenyum.
“Maaf, Dok. Mengganggu waktunya, saya ingin menanyakan mengenai mahasiswi yang tidak bisa...”
“Gara-gara absen,” potong Dokter Yura.
“Tapi saya selalu datang kuliah, Dok.” Almira membantah.
“Siapa nama kamu?”
“Almira.” Dia menyebut namanya dengan cepat.
Dokter Yura menyodorkan sekumpulan absen, dan menunjuk nama Almira.
“Absen kamu kurang dari 80 persen.”
Wajah Almira mulai cemas. Keningnya berkerut. Dia menggigit bibirnya.
“Kalau kamu tidak percaya, silahkan periksa sendiri.”
Almira segera memeriksa setiap lembaran absen, dia sangat berharap dokter Yura salah menilai, salah menghitung atau apapun itu yang bisa menyelamatkan namanya.
Ternyata benar. Namanya tertera namun tercoret. Apa masalahnya?
“Tanda tangan kamu tidak sesuai dengan sebelumnya.”
“Maaf, Dok. Ini sungguh tanda tangan saya, saya tidak pernah menitipkan absen kepada mahasiswa lain.”
“Seharusnya kamu lebih perhatian dengan tanda tanganmu.”
Dokter Yura menarik lembaran absen dari tangan Almira dan menghempaskannya ke atas meja. Dia tidak akan mudah percaya pada Almira. Dalam hal ini, tidak ada yang bisa bersaksi. Dia tidak menerima bukti apapun, selain tanda tangan yang tertera di lembaran absen. Namun Almira terus membujuk untuk memberikan bukti.
“Dengan apa kamu bisa membuktikan bahwa kamu hadir saat itu?”
“Catatan kuliah?”
“Silahkan temui saya setelah makan siang.” Dokter Yura berlalu meninggalkan Almira.
Sementara di luar ruangan, menunggu puluhan mahasiwa yang juga senasib dengan Almira.
“Bagaimana, Ra?” Mereka melemparkan banyak pertanyaan kepada Almira saat muncul dari pintu ruangan.
“Tadinya Dokter Yura tidak menerima bukti apapun, tapi kita coba memberikan bukti dengan catatan kuliah. Semoga saja kita  berhasil.” Jawab Ra.
“Dokter Yura sulit diyakinkan, Ra. Bisa saja dia beranggapan kalau kita membuat catatan kuliahnya sekarang? Dan dia tidak akan menerima bukti itu.”
“Tapi aku akan tetap menunjukkan padanya. Tidak ada yang perlu ditakutkan selama kita benar.”
Almira berlalu meninggalkan mereka dengan sedikit harapan. Berjalan menyusuri koridor gedung berlantai delapan itu. Tatapannya penuh dengan rasa cemas tapi masih terlihat gurat harapan.
Masih ada harapan, selalu ada harapan, aku hanya perlu berusaha lebih kuat.

***

Matahari tepat di atas kepala. Langkah kakinya gontai menaiki anak tangga. Buku catatan kuliah erat dalam pelukannya. Jam makan siang berakhir, satu persatu dosen sudah kembali ke ruangan. Bahkan dia sudah menunggu sebelum makan siang. Tatapannya lurus ke luar jendela, berharap seseorang yang sangat dinantinya muncul segera. Satu jam berlalu. Matahari semakin sengit membakar dedaunan dan ranting. Kepalanya tertunduk menatap ubin yang memperlihatkan bayangan orang yang lalu lalang di hadapannya. Kedua matanya tenang, sedikit berair, berkaca-kaca. Ia menggigit bibirnya, berusaha mencegah air matanya terbendung, namun tak lagi bisa tertahan. Dan jatuh. Deras menuruni lembah mimpi yang selama ini ia perjuangkan. Dia merawat mimipinya sejak masih dalam bentuk biji, lalu menjadi tunas, dan akhirnya tumbuh dengan rindangnya. Semakin tumbuh ke atas, badai semakin kuat menghantam, rantingnya patah, daun-daun berguguran, tapi ia tetap kokoh berdiri, pada akhirnya badai berlalu, hujan pun turun dengan riangnya membawa kabar gembira bagi seluruh penghuni bumi. Hujan menumbuhkan tunas-tunas baru.

“Memilih jalan ini, berarti harus siap berkali-kali jatuh dan bangun.”













About Sarni Kurniati

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas euismod diam at commodo sagittis. Nam id molestie velit. Nunc id nisl tristique, dapibus tellus quis, dictum metus. Pellentesque id imperdiet est.

No comments:

Post a Comment


Krim Pesan

Name

Email *

Message *

Translate