Kemarin saya ke mushalla sebuah pusat perbelanjaan di Jogja. Karena mushallanya tidak sebesar masjid di lantai atas, jadi jamaah harus antri sebagian di luar, menunggu jamaah yang di dalam selesai. Rasanya adem, masjid dan mushalla disini, meskipun di mall, selalu ramai. Seusai shalat, karena ada jamaah lain yang menunggu, satu persatu jamaah keluar dari mushalla. Karena pintunya cuma satu akses, jadi harus begantian.

Semuanya rapih, karena punya wudhu, laki-laki dan perempuan memisahkan diri dengan sendirinya. Laki-laki jalan terlebih dahulu. Tidak ada yang bersentuhan satu sama lain. Menjaga jarak. Semua keluar dengan tertib.

Lalu saya menggumam. Sepertinya suasana ini yang saya rindukan.
Kalau semua muslim dan muslimah di negeri dengan penduduk muslim terbanyak di dunia ini menjaga wudhu dengan baik, sepertinya tidak akan ada fenomena seperti sekarang. Ketika di social media laki-laki dan perempuan begitu dempet tanpa ada jarak. Ketika di dunia nyata, yang bukan mahram dengan sengaja bersentuhan tidak dalam batasan normal.

Kalau semua muslim dan muslimah menjaga wudhu, tak ada namanya demi relationship goal, muda mudi begitu mudah bermesraan di depan umum. Demi foto yang bagus, sampai lupa kalau foto-foto di social media kelak akan dipertanggungjawabkan di hari akhir.

Kalau semua muslim dan muslimah menjaga wudhu, aih setan pasti pusing bukan kepalang, darimana dia bisa menggoda manusia agar gandeng-gandengan, sender-senderan, dan peluk-pelukan sama yang bukan mahram?

Kalau semua muslim dan muslimah menjaga wudhu, tentu masing-masing akan tegas dengan sendirinya. Tidak merabunkan batasan, menjaga satu sama lain.
Hari ini mushalla di satu pusat perbelanjaan, memberi saya sebuah pelajaran berharga. Bahwa wudhu memiliki sebuah arti…untuk menjaga apa yang seharusnya dijaga. Menjaga diri, menjaga orang lain, menjaga dari bisik setan, menjaga nafsu, dan menjaga kesucian.

Semoga tiap-tiap dari kita senantiasa semangat belajar. Dan sebaik-baik ilmu adalah yang diamalkan :)
Semoga dapat menjadi pengingat untuk diri sendiri. Wallahua'lam, yang masih miskin ilmu,
 
 --------
dikutip dari http://ajinurafifah.tumblr.com/