Catatan Harian Sakura

Karena dengan menulis, segala bentuk kebaikan tidak akan berhenti di depan matamu
Follow Me

Belajar Yakin



By  Sarni Kurniati     10/08/2017 08:03:00 AM    Labels: 
Kali ini saya akan menceritakan suatu kejadian yang karenanya saya menyadari satu hal, bahwa segala sesuatunya asal kamu yakin sama Allah semua akan baik-baik saja. Yup, kamu yakin gak sama Allah? Lebih yakin dari terbitnya matahari?
 
Semoga perempuan ini selalu bisa mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang Allah takdirkan menemani perjalanannya. Semoga perempuan ini ridho atas segala ketetapanNya.

Kesibukan sebagai dokter muda tahun pertama di salah satu Rumah sakit daerah kota batam, membuat saya harus mengorbankan rasa rindu terhadap kampung halaman tercinta, sebab Satu tahun pertama menjalani koas, momen lebaran tahun lalu bertepatan dengan Jadwal stase jaga malam. Saya masih ingat malam pertama menjemput hari kemenangan, saya lalui bersama pasien yang saat itu masih harus menjalani perawatan intensif pasca operasi bedah thorax/dada. 

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal, tahun kedua  saya berkesempatan pulang ke rumah, rumah orangtua saya. Rumah yang paling saya rindukan kesunyiannya, kedinganannya, rumah yang telah melahirkan cita-cita saya.
Saat itu saya sedang menjalani stase forensik, stase surga bagi para koas. Karena dengan stase ini saya bisa pulang ke kampung halaman. Terimakasih dokter supervisor kami yang begitu baik dan sangat pengertian meliburkan kami lebih awal dari stase lain. Hehe, ini semacam bonus karena tahun lalu nggak bisa pulang.
Saya sudah memesan tiket untuk tanggal 21 Juni 2017. 

Malam sebelum keberangkatan. Saya dan tim forensik beserta supervisor kami mengadakan buka bersama di salah satu café, ini agenda tahunan yang pasti akan dilakukan para koas kepada supervisornya.

Pagi, 21 Juni 2017. 
Kegirangan saya terhadap kepulangan kali ini benar-benar sudah diatas ambang normal. Saking senangnya, saya lupa satu hal. DOMPET. Saya telah kehilangan dompet yang isinya,KTP, STNK, KTM, uang tunai dan struk belanja sebulan. Saya baru menyadarinya Pagi itu setelah memastikan semua barang sudah dikemas rapi. Mulailah saya galau, uring-uringan mencari di bawah bantal, di koper, dilemari, ditangga, pokoknya saya bongkar lagi koper dan kardus.  Nihil. Saya tidak menemukan dompet mungil berwarna hitam itu di kamar kos.
Saat itu saya teringat satu nasehat,

Bahagialah secukupnya, bersedihlah secukupnya, karena kesenangan dan kesedihan adalah bentuk ujian dari Allah.

Mungkin Allah sedang menguji saya berupa kesenangan yang selama ini saya inginkan, saya terlampau senang dan bahagia bisa pulang. Saya lupa, bahwa semua karena izin Allah.

“Innaa Lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, Allahumma‘ajurni fii mushiibatii wa akhlif lii khairan minhaa”

Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya kami akan kembali. Ya Allah, berikanlah aku pahala dalam musibah ini dan gantilah untukku yang lebih baik daripadanya.(HR. Muslim:2/632)

Bukan karena kehilangan uang saya segalau ini, tapi gimana caranya bisa cek in pesawat kalau KTP saja nggak ada? Pikiran saya saat itu Cuma satu, Gimana caranya pulang tanpa kartu identitas?
Saya menghubungi kerabat yang bekerja di Bandara, siapa tahu bisa lolos cek in dan boarding pass tanpa KTP. Ternyata harus ada identitas, atau paling tidak surat keterangan hilang dari kepolisian.
Saya izin untuk tidak masuk diskusi demi mengurus surat kehilangan. Awalnya saya ke Bank BNI, untuk menarik uang yang ada di tabungan, karena tabungan saya adalah taplus mahasiswa jadi harus ada surat kehilangan dan surat aktif mahasiswa. Kegalauan saya bertambah, untuk mengurus surat aktif butuh waktu 3 hari, ribet karena harus ditandatangani oleh dekan yang gak standby di ruangan. Sementara saya berangkat sore itu juga, saat itu cuma ada 120ribu cash di tangan.
 Saya sempat nangis di depan mbak customer service.

“Nggak bisa diusahakan ya, Mbak?” tanyaku sambil menyeka pipi.

Tentu jawabannya tidak bisa. Mau sebutuh apapun saya dengan uang ini, tetap aja mbak customer service gak luluh dengan wajah saya yang minta dikasihani, persis anak kecil merengek minta uang sama mamaknya buat beli permen kaki. Begitulah gambarannya, miris? Iya, banget. Saat itu saya benar-benar merasa gak ada yang bisa membantu. Begitu keluar dari Bank, Sambil terus bertanya-tanya sama diri sendiri, kok saya bisa sesedih ini sih? Kenapa juga harus nangis di depan mbaknya?

Come on, sar. Jangan mewek gini ah, kalau memang waktunya kamu harus pulang, kamu pasti pulang, gak peduli semesta ini menggagalkanmu, kalau kata Allah, Kun, maka jadilah, kamu akan pulang.  

Sambil tersedu-sedu dibawah rintik hujan, saya melaju ke kantor polisi, lumayan jauh dari rumah sakit. Ini kali pertama berurusan dengan kantor polisi.

Setibanya di ruangan lobi, hujan turun dengan derasnya.

Allahumma Shoyyiban Naafi’an

Bukankah hujan turun membawa keberkahan? hujan membawa kabar gembira kepada manusia. Berdoalah dikala turun hujan, doa saya saat itu cuma satu. Semoga Allah memberkahi kepulanganku, Bahkan ditengah kehilangan ini, saya yakin Allah ingin memperlihatkan sesuatu untuk saya, bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan.
Saya duduk diantara deretan orang-orang yang ngantri sejak pagi. Lumayan panjang antriannya. Sambil menatap hujan. Satu setengah jam lamanya, saya keluar dari ruangan petak setelah menerima selembar surat kehilangan. Hujan reda. Saya kembali ke rumah sakit.

Be positif think...

All is well. I will be back to home. 

Saat tak ada sepeserpun uang di genggaman. Semuanya hilang seketika. Disaat seperti ini, saya menyerahkan diri kepadaNya. Sungguh, saya ingin sekali pulang. Cuma itu keinginan saya saat ini. Ya Allah, saya ingin pulang. Terus saja hati bergumam, mata yang sejak tadi berusaha menahan cucuran. Teman saya menepuk-nepuk pundak untuk menenangkan,  tapi bukannya lega malah semakin mewek. 


Berbekal surat kehilangan, saya melewati proses boarding pass dengan mulus. Awalnya petugasnya nanya kenapa dan kapan hilang,  tapi sebelum pertanyaan mereka selesai, saya buru-buru masuk ke lobi karena detik-detik terakhir boarding pass. Alhamdulillah. 

Selama perjalanan, saya masih kepikiran dompet hilang atau kececer dimana. Saat kita merasa kehilangan berupa uang atau barang, mungkin saat itulah kita memberikan hak orang lain yang ada pada harta kita. Karena didalam harta kita ada hak orang lain, karen itu kita dianjurkan untuk berzakat, dan sedekah dari hasil usaha kita. Mungkin dengan kehilangan seperti yang saya alami adalah cara Allah memberikan hak oranglain. Dan saya baru menyadarinya setelah kehilangan. Jadi, sedekahkan lah setiap bulannya dari penghasilanmu.

Meskipun atm sudah diblokir, ada ratusan ribu di dompet itu, semoga saja yang menemukannya  bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Satu jam kemudian, saya tiba di bandara Sultan Thaha. Sambil nunggu bagasi, saya termenung, mikirin gimana caranya mengurus kembali berkas untuk pembuatan KTP dll.  Tiba-tiba hp berdering.

Saya gak tau harus bilang apa, tapi setelah melewati kepasrahan, Allah justru berbalik memberikan semuanya, dompet saya ditemukan.

Dan benarlah, kalau kamu yakin sama Allah, berbaik sangka sama Allah, sekejap dia bisa merubah segalanya, melenyapkan seketika, dan sekejap pula mengembalikannya kepadamu dalam bentuk yang sama, atau bentuk yang lain.

Belajar yakin sama Allah, sering-sering menyebutnya dalam hati. Merayunya dalam hati. Allah begitu dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi kita. Dan Allah menurut persangkaan hambanya. Jadi, apapun yang terjadi, tetaplah berprasangka baik padaNya karena menggerutu tidak akan merubah apapun malah bikin semakin rumit.

Yuk, belajar yakin sama Allah SWT.

Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Mujib, Ya Malik.



About Sarni Kurniati

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas euismod diam at commodo sagittis. Nam id molestie velit. Nunc id nisl tristique, dapibus tellus quis, dictum metus. Pellentesque id imperdiet est.

No comments:

Post a Comment


Krim Pesan

Name

Email *

Message *

Translate