Catatan Harian Sakura

Karena dengan menulis, segala bentuk kebaikan tidak akan berhenti di depan matamu
Follow Me

Menabung Kebaikan



By  Sarni Kurniati     10/22/2017 07:23:00 AM    Labels:, 

Sejak sekolah dasar, saya sudah terbiasa menabung, uang ribuan hasil dari bantu jualan di toko saya tabung perhari dalam celengan bekas Milo. Tahun 2009 setelah ulus dari Madrasah Tsanawiyah, tabungan dalam celengan milo ini cukup untuk membeli laptop. Itulah pertama kalinya saya menabung dengan nominal terbanyak, laptop pertama yang saya miliki hasil dari uang yang saya kumpulkan sejak kelas 6 Sekolah Dasar. Kini laptop itu sudah masuk dalam museum Karena nggak bisa hidup lagi.
Dari saya kecil, Mak Aji selalu mengingatkan untuk menabung, seribu hingga limaribu perhari. Hal yang sama saya lakukan kembali pada saat Madrasah Aliyah, karena saya memang nggak hobi shopping baju, atau mengoleksi barang-barang perempuan, jadi saya bisa menyisihkan lebih banyak dari uang jajan bulanan yang diberikan oleh mereka. Tabungan saya yang terkumpul saat itu saya belikan handphone nokia yang harganya 800ribu, dan ini adalah hp pertama yang saya miliki, karena  Mak Aji belum mengizinkan untuk saya punya hp sendiri sebelum Madrasah Aliyah. Maklum, anak perempuan satu-satunya, jadi wajar dijaga ketat, hehehe. Nah, selain itu,manfaat menabung saya rasakan saat hendak lulus dari Madrasah Aliyah, saya menggunakan tabungan untuk mengikuti bimbel di luar sekolah dengan biaya yang tidak sedikit agar bisa masuk ke perguruan tinggi.
Bagi saya penting banget punya kebiasaan menabung, bukan soal hemat ya, menabung adalah ketika kamu bisa menyisihkan uang dari sebagian uang bulanan yang dikirim oleh orangtuamu. Karena ada hal tertentu dan tidak terduga yang saat itu kita tidak bisa memperoleh uang untuk kebutuhan tersebut dalam waktu yang singkat, kita akan tertolong dengan adanya tabungan. Dengan menabung, kita justru mempersiapkan diri untuk menghadapi masa-masa sulit, terutama ketika orangtua tidak dapat mengirimkan uang bulanan tepat waktu. Wah, kalau yang ini sering banget sih, terutama setelah jadi mahasiswa dan merantau jauh dari keluarga.
Memutuskan merantau dan jauh dari keluarga, ditambah status baru jadi mahasiswa  memerlukan penyesuaian diri yang ekstra, terutama beradaptasi dengan lingkungan baru. Melihat kota Batam adalah kota dengan penduduk yang cukup padat, dengan jumlah gaji UMK terbilang tinggi, dan biaya hidup disini juga sepadan sih dengan pendapatan karyawan, lebih tinggi dari biaya hidup di Jambi. Kota industri  ini cocok dihuni oleh mayoritas pekerja, kalau untuk kalangan mahasiswa, selama bisa mengelola keuangan-kiriman dari orang tua dengan baik, kayaknya sih gak terlalu berat hidup di kota industri ini. Tapi yah harus benar-benar di press pengeluarannya, awalnya memang sulit, 3 bulan pertama merantau saya masih belum bisa menyisihkan uang jajan untuk ditabung, semuanya ludes bahkan kurang dari uang bulanan biasanya. Saat itu fase krisis keuangan buat saya, tabungan saya nol rupiah, akhirnya saya berusaha minjam uang ke sepupu, itupun harus dipress biar bisa memenuhi kehidupan sampai ada kiriman bulanan. Bisa aja sih nelfon ke orangtua buat kirimin lagi, tapi karena saya gak terbiasa minta, karena selama ini apa-apa lebih sering pake tabungan, jadi kalau minta ke orangtua dengan alasan uang habis rasanya tuh segan, dan nyalahin diri sendiri, orangtua udah banyak ngeluarin uang buat biaya kuliah, jadi sebenarnya berat banget kalau minta lebih, meskipun saya tahu mereka akan menyanggupi berapapun yang saya minta.
Menabung itu belajar mencukupkan kebutuhan diri sendiri. Meskipun uang tabungan masih dari orangtua. Setelah makin kesini, ternyata bebarapa hal kenapa saya sulit menabung selama kuliah, saya tidak memprioritaskan kebutuhan saya selama menjadi mahasiswa. Mulai saat itu saya membuat anggaran pengeluaran setiap bulannya, dan berapa persen dari uang bulanan yang harus ditabung, dan nggak kalah penting kebutuhan apa saja yang wajib dan tidak wajib untuk saya. Karena saya tinggal di asrama kampus, biaya asrama tidak terlalu mahal untuk ukuran kamar yang lumayan lah buat 4 orang selonjoran. Tapi jujur ya, tinggal di asrama lebih hemat daripada di luar.
Setelah memisahkan kebutuhan wajib seperti uang asrama, dan keperluan sehari-hari untuk kebersihan, makan, biaya fotocopy materi kuliah dan hal-hal lain menyangkut kuliah, dan makan bareng adik-adik panti asuhan,  Selanjutnya adalah memisahkan kebutuhan diluar dari itu semua (kebutuhan wajib), seperti belanja Buku bulanan dan biaya tidak terduga. Semua itu harus tercover selama satu bulan penuh, tidak boleh berlebih, dan sisanya baru deh ditabung, sisanya ini sudah disisihkan terlebih dahulu, jangan menunggu setelah semua dibelanjakan baru disisihkan, karena gak akan kuat kamu menahan hawa nafsu untuk belanja. Pasti ludes des des… hehehe
Banyak orang berpikir, kalau untuk menabung itu harus rela ngirit, itu awal-awal kuliah yang sering saya lakukan, ternyata malah saya makin melarat, makan 2 kali sehari sih, tapi lauknya dibagi dua, kalau lauknya ikan dibagi dua buat malam dan siang, pagi gak sarapan. Kan gak bernutrisi banget tuh.  Tapi setelah membagi keperluan saya seperti di atas, dan menyisihkan uang yang ditabung lebih awal, saya rasa itu solusi yang baik buat kamu yang kesulitan menabung. Karena saya sudah membuktikannya, meskipun awalnya yah begitu masih ngebobol celengan, tapi daripada gak ada yang dibobol yak, wkwkkwkw. Yang penting adalah sisihkan dulu, dan usahakan mengeluarkan sesuai dengan kebutuhan. Nah, untuk biaya tidak terduga, kalau sampai akhir bulan ternyata gak terpakai, bisa jadi bonus buat kamu. Dan uang yang kamu sisihkan untuk ditabung gak perlu dibobol lagi, ehhehe.
Nah, kadang-kadang saya masih sering kebobolan uang tabungan, beruntungnya lagi saya perempuan yang gak suka pernak-pernik perempuan seperti ngoleksi printilan dari ujung rambut sampai ujung kaki, selama kuliah saya sama sekali nggak pernah ngelirik make up, dan untuk baju yah saya beli kalau ada acara seperti nikahan, idul fitri, yang membuat saya harus membeli pakaian tersebut. Tapi satu hal yang gak bisa saya redam, adalah membeli buku. Cuma ini satu-satunya hal yang sering membuat saya harus membobol tabungan. Tapi balik lagi, apa yang saya dapatkan dari buku ini bukan hanya sebuah kepuasan tapi sebuah pemahaman baru, semangat baru, rasanya kalau beli buku itu saya seperti berinvestasi-bahasanya kayak pengusaha yak- ini hanya berlaku bagi kamu yang memang doyan baca buku, dan gak akan berlaku buat kamu yang gak suka baca. Beranjak dari kehobian saya mengoleksi buku, itu juga yang membuat saya akhirnya mencoba mencari uang untuk memenuhi hasrat saya, dengan cara apa? Saya kadang nulis di blog, kirim tulisan ke media, ikut lomba baca puisi, dan Alhamdulillah dari sanalah uang jajan bertambah, dan saya gak perlu ngebobol tabungan lagi untuk memenuhi hobi saya ini.
Mak Aji selalu berpesan kepada saya agar menyisihkan uang tabungan, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup saya semata, tapi adakalanya kondisi tertentu yang pada saat genting orangtua mungkin tidak lagi membantu keperluanmu, dan menabung bukan hanya soal berapa nominal yang kamu sisihkan di tabungan, tapi seberapa banyak yang kamu sisihkan untuk anak yatim atau orang lain yang memerlukan bantuanmu,  adalah tabungan yang tidak akan pernah habis meskipun kamu mengeluarkannya untuk kebutuhan mereka. Kenapa? Karena Allah akan balas dengan rezeki berlipat ganda. Uang memang bukan segalanya, tapi dari uang kamu akan menjadi lebih baik atau lebih buruk?
Terimakasih Mak Aji, selalu mengingatkan anak perempuanmu untuk menabung kebaikan.


 Batam, 22 Oktober 2017


About Sarni Kurniati

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas euismod diam at commodo sagittis. Nam id molestie velit. Nunc id nisl tristique, dapibus tellus quis, dictum metus. Pellentesque id imperdiet est.

No comments:

Post a Comment


Krim Pesan

Name

Email *

Message *

Translate